Sukses dengan Kerja Keras dan Curiosity

Sukses dengan Kerja Keras dan Curiosity

Kerja keras dan penuh rasa ingin tahu (curiosity) adalah dua hal yang pas untuk mendeskripsikan sosok Ade. Meski hanya lulusan SMA, ia terbilang sukses menjalankan usaha dagang plastik di pasar Ciampea, Bogor. Bagaimana tidak, meskipun hanya berjualan plastik di pasar ia mampu mencapai omset hingga  40 juta/hari, mempunyai total 9 kios, dan 10 orang karyawan. Ketertarikannya pada dunia usaha ini menurun dari sang ayah yang memang seorang pedagang pakaian, sehingga ia memutuskan menjadi seorang wirausaha, mengikuti jejak sang ayah.

Tahun 2008 Ade memulai dengan berjualan plastik di Pasar Lama, dengan kerja keras dan kesabarannya usaha dagang plastik miliknya mulai dikenal dan mendapatkan pelanggan. Omsetnya kala itu bisa mencapai Rp.3 juta/harinya sungguh sebuah permulaan yang baik bagi perkembangan bisnisnya. Namun pada tahun 2009 terjadi relokasi pasar, para pedagang di Pasar Lama harus pindah ke lokasi Pasar Baru.

Omset yang ia terima saat pindah ke lokasi baru tersebut turun drastis hanya sebesar Rp.1juta/harinya. Berbagai cara ia lakukan untuk dapat menarik hati pelanggan lagi, seperti pemberian potongan harga dan pelayanan yang baik serta memuaskan merupakan kuncinya. Setelah setahun berjalan, Ade memutuskan untuk membeli kios yang selama ini ia sewa dengan menggunakan uang tabungannya. Karena tabungannya saat itu belum cukup untuk membeli kios tersebut, akhirnya ia mengajukan pinjaman ke BMT Tadbiirul Ummah untuk menutupi kekurangannya.

Dari pinjaman itulah ia mulai mengenal Iyan Sopian yang merupakan karyawan BMT Tadbiirul Ummah. Iyan yang sudah mendapatkan pelatihan Pendampingan Bisnis Mikro dari Mien R. Uno Foundation, ditugaskan sebagai pendamping usahanya. Iyan menjadi teman diskusi Ade mengenai berbagai hal, mulai dari dari manajemen keuangan, perluasan pasar, hingga manajemen usaha secara umum.

Mulai tahun 2010 ia menjual bahan-bahan kue setelah melihat peluang dan memastikan kondisi pasar. Untuk memperbesar volume, ia juga menjemput bola dengan memulai sistem canvas. Dengan layanan itu, para pedagang kue tidak perlu repot-repot datang ke kios. Hal ini bertujuan untuk menarik minat calon pembeli dengan memberikan kemudahan dalam berbelanja. Dengan penawaran murah, harga yang bisa bersaing, dan referensi dari pedagang lainnya membuat sistem kanvas ini berhasil. Saat ini Ade sudah mempunyai 6 jalur dengan jaringan 70 pedagang kue, setiap jalur mendapatkan omset minimal Rp.7juta/hari dengan menggunakan 2 mobil operasional. Saat ini, Ade berencana untuk mengembangkan jalur ini dengan menjadi 12 jalur.

Ade menuturkan bahwa ia banyak belajar, baik dari sang ayah yang seorang wirausaha, dan melalui buku-buku yang berkaitan dengan manajemen usaha. Ia menyempatkan membaca baca 30 menit sebelum tidur. Ia juga berdiskusi dengan orang dari berbagai bidang dan latar belakang untuk menambah wawasan atau mendapatkan peluang. Ia juga memiliki 3 orang pengusaha besar di daerah Bogor sebagai role model-nya, hal ini membuatnya terpacu dalam meraih kesuksesan seperti sekarang.

Ade adalah sosok pekerja keras, saat malam tiba ia menulis rekap penjualan dan bersama-sama pekerjanya menyiapkan barang yang akan diedarkan para canvasser-nya. Ade terus bergerak dan tidak pernah berhenti,  ia berpikir bahwa suatu saat ia akan menjadi pemilik pabrik.  “Modal untuk mendirikan pabrik sangat besar, saya belum mampu.” tuturnya.  “Saya mulai dari jualan dulu, nanti selanjutnya saya ingin memiliki merek sendiri,  setelah itu barulah memiliki pabrik sendiri”.

Comments

Article by: Admin MRUF