Berdayakan Petani Kakao di Blitar dengan Pinonika

Berdayakan Petani Kakao di Blitar dengan Pinonika

Mempunyai bisnis yang bisa memberdayakan banyak orang, menjadi salah satu impian wirausahawan saat ini. Tidak terkecuali Anika, seorang pengusaha muda yang tengah giat mengembangkan bisnis cokelat khas Blitar, yang diberinya merek Pinonika Choco. Ia berhasil menaikan nilai ekonomis tanaman cokelat di Blitar, hingga menjadi salah satu oleh-oleh khas daerah yang terletak di wilayah Jawa Timur tersebut.

“Saya lihat banyak petani cokelat disini  tapi kok ga ada yang jual produk cokelat, jadi saya ingin buka usaha yang bikin cokelat jadi oleh-oleh khas sini” ungkap alumni envoy IV ini. Dari pengamatannya itu, ia menyadari bahwa peluang usaha makanan olahan cokelat sangat potensial karena belum banyak dijumpai padahal bahan baku mudah didapat disana.

Menyadari hal tersebut, akhirnya pada tahun 2012, dengan modal 500 ribu rupiah yang diambil dari tabungannya, ia mulai membuat usaha makanan olahan cokelat. Untuk Bahan baku  ia menggunakan cokelat yang didapatnya dari petani lokal. Produk perdana yang dibuat Anika adalah enting cokelat, ia mengembangkan jajanan tradisional yang biasanya dibuat dari kacang tanah, wijen dan gula merah ini menjadi makanan baru dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi.  Menggunakan cokelat sebagai pengganti gula merah, menjadi salah satu alasan enting cokelat disukai berbagai kalangan.

Produk inovasi tersebut pertama kali dipasarkan pada sebuah acara pameran yang diselenggarakan oleh kampusnya. Setelah sukses memerkenalkan Pinonika Choco dengan produk enting cokelatnya, Anika mulai menitipkan produk tersebut ke berbagai toko oleh-oleh disana. Anika juga memanfaatkan media sosial Facebook sebagai sarana promosi dan menjual produk enting cokelatnya itu.

Diawal usahanya, Pinonika Choco ini hanya meraup omset Rp.3-4 juta/bulan dengan keuntungan sebesar Rp.1 juta/bulan. Anika yang dulunya mahasiswi Fakultas Biologi di Universitas Airlangga ini, memang tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan seputar manajemen dan pengelolaan keuangan yang baik  untuk bisnis cokelatnya itu. Akibatnya, ia sempat mengalami kesulitan modal sehingga tidak bisa membeli bahan baku untuk membuat cokelat. Saat itu ia hanya bisa membuat 100 pacs enting cokelat dengan 4kg bahan baku.

Ditengah kegalauannya itu, ia mendapat informasi seputar program beasiswa Envoy dari mading kampusnya. Kemudian ia pun tertarik untuk bergabung dengan program envoy MRUF, menurutnya program beasiswa ini bisa membantunya untuk mengembangkan bisnis Pinonika. Setelah melewati seleksi yang cukup ketat, ia pun akhirnya menjadi salah satu mahasiswa penerima beasiswa kewirausahaan mahasiswa angkatan ke IV. Selama mendapat program beasiswa tersebut ia mendapat banyak pelajaran seputar mental bisnis, marketing, pengelolaan keuangan dan manajemen.

Dari ilmu yang diperoleh, akhirnya ia benar-benar mengerti tentang pengelolaan keuangan dan strategi marketing yang baik untuk diaplikasikan dalam usaha Pinonika miliknya “Sekarang saya jadi ngerti akuntansi dan bisa ngitung sendiri keuangan saya” tutur Anika. Hasilnya, kini ia sudah bisa menyewa sebuah toko di daerah wisata dekat makam Bung Karno, dan menjajakan produk cokelatnya kepada pelanggan secara langsung.

Pada awalnya ia bekerja sendiri di toko itu, beruntung Anika adalah mahasiswa tingkat akhir yang tidak terlalu disibukkan oleh mata kuliah di kampus sehingga Anika bisa fokus ke bisnisnya. Namun semakin berkembang usaha Pinonika milliknya, akhirnya Anika merasa harus memiliki karyawan untuk membantunya. Saat ini Anika sudah mempunyai 4 orang karyawan yang ditugaskan untuk menjaga toko dan membuat produk olahan cokelat.

Dengan strategi marketing yang dipelajari selama bergabung dengan Envoy, Anika akhirnya membuat rencana untuk menambah jenis variasi rasa demi menggaet pasaran baru. Sampai saat ini sudah ada 9 varian rasa baru yang terdiri dari cokelat original, cokelat susu, enting cokelat, dll. Kerja kerasnya tidak sia-sia, sekarang usaha Pinonika miliknya itu mempunyai omzet hingga Rp.50 juta /bulan dan keuntungan bersih mencapai Rp.12-13 juta/bulan.

Tidak hanya berjualan di toko, Anika juga mendistribusikan produknya ke beberapa reseller untuk dipasarkan kembali. “Para reseller itu yang promosikan produk saya di media sosial, soalnya saya sendiri belum sempat untuk kayak gitu” ujarnya sambil tertawa. Menurutnya bantuan para reseller itu dalam mempromosikan produk Pinonika keluar Blitar sangat berarti. Ia berharap kedepannya agar usaha Pinonika dengan olahan cokelatnya ini bisa dikenal di Indonesia, dan bisa mengangkat nilai cokelat produksi Blitar di mata masyarakat.

 

Comments

Article by: Admin MRUF