Arifin B. Imron, Mantan Pekerja yang Punya 7 Pekerja

Arifin B. Imron, Mantan Pekerja yang Punya 7 Pekerja

Awalnya Arifin adalah pekerja biasa di sebuah bengkel. Setamat SMP ia mulai bekerja dan mengenal dunia perbengkelan dan las. Lambat laun, pengetahuannya tentang bengkel dan las mulai meningkat. Setelah lima belas tahun, akhirnya Arifin memilih membuka bengkel sendiri.Arifin memulai usaha bengkel dengan modal Rp. 600 ribu, hasil dari tabungannya selama menjadi pekerja bengkel. Ia mengkhususkan diri pada pembuatan mesin pencetak batako press. Karena keterbatasan modal, Arifin memulai usaha dari rumah orang tuanya. Usahanya kemudian berkembang dan akhirnya mampu menyewa tempat di bilangan Cibanteng Bogor. Ia menyewa kios berukuran 5 X 3 meter untuk mengerjakan pesanan yang datang. Lambat laun, alat-alat yang dimiliki makin lengkap dengan total nilai aset Rp. 14.000.000. Jika ia dulu bekerja pada orang lain, kini dalam usia 37 tahun ia mampu mempekerjakan 7 pegawai. Kini ia bisa mengerjakan 6 mesin pesanan dalam sebulan. Rata-rata pesanan dikerjakan dalam 1 bulan 10 hari. Rata-rata mesin pencetak batako press itu dijual Rp. 50 juta per buah. Sebagai layanan, ia memberikan garansi perbaikan kepada para pemesannya jika mesin buatannya rusak.

Makin banyaknya pesanan membuatnya berpikir untuk menambah modal agar mampu memenuhi pesanan tepat waktu. Lewat perkenalannya dengan Marketing Officer BMT Tadbiirul Ummah, akhirnya ia mendapatkan pembiayaan dari MRUF sebesar Rp. 2.000.000 untuk pembelian barang modal. Dengan modal tersebut ia bisa menambah kapasitas produksinya.Arifin mengaku sampai saat ini tidak punya masalah dengan usahanya. Pelanggannya datang sendiri baik dari daerah sekitar Bogor, maupun dari luar. Menurut penuturannya, pesanan terjauh datang dari Cibinong. Mereka mengenai Arifin dari mulut ke mulut. Pemesan sebelumnya biasanya bercerita tentang bengkel Arifin. “Biasanya mereka tahu saya produksi mesin batako press dari cerita orang,” kata Arifin.

Comments

Article by: admin