Belajar Model Bisnis dari Jatis Grup

Belajar Model Bisnis dari Jatis Grup

Untuk memberikan wawasan dan pengalaman nyata mengenai model bisnis, MRUF memfasilitasi para penerima beasiswa wirausaha mahasiswa MRUF Envoy VI untuk berguru ke Jatis Grup. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Training 2 MRUF Envoy VI. Kunjungan ini digelar pada tanggal 22 November 2014 di salah satu kantor Jatis Mobile di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Para mahasiswa  berguru langsung kepada Jusuf Sjariffudin, Presiden dan CEO dari PT. Jati Piranti Solusindo (Jatis Group). Meskipun kunjungan ini dilaksanakan pada hari Sabtu tidak menghambat Jusuf untuk berbagi pengalaman.  Ia menyempatkan bermain table football bersama peserta Envoy VI sebelum memulai acara.

Jatis Group merupakan induk korporasi yang bergerak di bidang teknologi informasi dan konsultasi perangkat lunak. Perusahaan yang didirikan pada September 1997 ini telah memiliki anak perusahaan di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Filipina. Saat ini Jatis Group memiliki lebih dari 500 klien korporasi, baik nasional maupun multinasional dengan 100 merek utama.

Setiap bulan Jatis Group memproses lebih dari 42 juta SMS broadcast yang bertujuan untuk melakukan target market dan akuisisi pelanggan. Jatis Group juga mendukung 90% penggunaan kartu kredit pada infrastuktur mobile dan merchant, serta lebih dari 8000 cabang bank di Indonesia menggunakan aplikasi wealth management milik Jatis (AvantradeTM) untuk mendukung kegiatan penjualan produk-produk finansial mereka.  Hampir seluruh industri keuangan menjadi klien Jatis termasuk penyedia transaksi reksadana.

 

Para mahasiswa belajar bahwa bisnis harus memberikan solusi. “Sebuah bisnis harus memiliki  UVP, Unique Value Proposition,” demikian Jusuf. Jatis misalnya mengembangkan software untuk pemesanan tiket pesawat sehingga hampir semua industri penerbangan memakai software Jatis. Banyak lagi contoh software Jatis yang memudahkan termasuk untuk pembayaran non tunai yang mendukung industri retail.

Untuk mengembangkan bisnis, seorang pengusaha harus memiliki satu kompetensi utama, selanjutnya perkembangan dapat didesain tidak jauh dari lini bisnis utama. “Lihat, apa lagi yang dibutuhkan konsumen atau konsumen mana lagi yang bisa Anda layani dengan kompetensi inti Anda.” Jusuf memberikan sebuah contoh berupa perkembangan Google yang awalnya hanyalah sebuah laman untuk melakukan pencarian. Hingga saat ini, Google telah memiliki banyak aplikasi mulai dari surat elektronik, peta, penerjemah, penyimpanan data, hingga tempat untuk belanja online bagi pengguna smartphone Android.

“Untuk memulai sebuah bisnis, pengusaha harus mempunyai mimpi. Rasa takut pasti ada tetapi dengan mimpi yang terus dipegang akan mempertahankan komitmen dan semangat untuk menjalankan usaha. Kerugian pasti ada, misalnya salah strategi bisa menimbulkan kerugian,” ujar Jusuf di tengah-tengah sesi sharing. Selama menjalani bisnis di bidang IT, Jusuf juga pernah mengalami kerugian yang sangat besar. Yang membuat Jusuf terus bertahan meskipun mengalami kerugian adalah sebuah tantangan dan tanggung jawab terhadap karyawannya.

Sesi yang berlangsung sangat seru ini membuat peserta betah duduk hampir tiga jam. “Saya menjadi tahu bahwa usaha saya ternyata memiliki keunikan. Yang saya petik dari materi yang disampaikan oleh Bapak Jusuf yaitu untuk menjadi seorang pengusaha jangan memikirkan uang yang akan kita didapatkan tetapi bagaimana cara untuk menjalankan usaha tersebut. Dan menjadi pengusaha harus jujur,” ungkap Saiful Afandi Wahyu yang memiliki usaha Keripik Sayur.

Comments

Article by: Admin MRUF