Kerja Keras Di Usia Muda dengan Bisnis Fotocopy

Kerja Keras Di Usia Muda dengan Bisnis Fotocopy

Ahmad Dardai Saifullah, merupakan pemuda yang cukup berhasil dari bisnis fotocopy nya. Kendati usaha tersebut kurang populer di kalangan anak muda seusianya, tetapi tidak membuat pemuda yang akrab dipanggil Dai ini gentar dan malu untuk memulai bisnis tersebut. Ide usaha sederhana dan kejeliannya membaca kondisi pasar, mampu mengantarkan Dai pada kemandiriannya saat ini. Semula ia menerima beasiswa dari Mien R. Uno Foundation (MRUF), kini ia bisa bebas beasiswa dan mandiri dalam membiayai hidupnya bahkan membantu keluarganya.

Sebagai anak rantau, kemandirian merupakan hal mutlak yang harus dimiliki. Hal itulah yang dilakukan oleh Dai. “Setelah saya menjalani kehidupan kuliah, saya berpikir bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya kuliah,” ucap mahasiswa jurusan statistik Universitas Negeri Semarang ini. Guna menutupi biaya hidup dan kuliahnya, Dai pernah bekerja paruh waktu di beberapa tempat, mulai dari bekerja di tempat fotocopy, menjadi tutor anak SD dan SMP, hingga berjualan baju di pasar kaget sekitar kampus.

Beragam aktifitas tersebut membuatnya cukup kewalahan, mengingat waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan pemasukan yang diterima. Atas alasan itulah, ia membulatkan tekad untuk membuka usaha sendiri. Karena berasal dari keluarga pas-pasan, ia tidak punya modal usaha. Dengan bulat tekad, ia mencari modal. Dalam setahun, setidaknya ia membuat 10 proposal usaha. Hingga pada tahun 2011 ia memiliki ide untuk membuat proposal bisnis fotocopy dan mengirimkannya ke Program Kewirausahaan Mahasiswa (PKM) di kampusnya.

Gayung pun bersambut, proposal yang diajukan lolos dan ia mendapatkan bantuan modal sebesar 5 juta rupiah. Dengan uang tersebut, ia langsung merealisasikan rencananya membangun bisnis fotocopy. Dai mulai menyewa tempat dan satu buah mesin fotocopy, serta membeli beberapa inventaris toko. Akhirnya, pada tahun 2012 dibukalah gerai Dai Fotocopy.

Pada bulan-bulan awal, ia sempat mengalami kesulitan bahkan hampir gulung tikar karena belum bisa mengatur waktu untuk kuliah dan bekerja.  Ia terpaksa menutup toko bila ada jadwal kuliah. Dai merasa hal ini membuat usahanya kurang efektif. Akhirnya ia memperkerjakan seorang karyawan untuk membantu mengelola fotocopy nya.

Awalnya, omset dari usaha fotocopy tersebut sekitar  6-7 juta rupiah dengan keuntungan sebesar 900 ribu hingga satu juta rupiah. Setelah bergabung dengan program beasiswa wirausaha MRUF Envoy omsetnya naik hingga 60-70 juta rupiah dengan keuntungan mencapai 15-20 juta rupiah. Mesinnya kini berjumlah 6 buah, outletnya bertambah dua.

Dari program beasiswa wirausaha MRUF Envoy, Dai banyak belajar tentang pentingnya manajemen keuangan dalam sebuah usaha. “Yang paling nempel di otak saya adalah soal manajemen, marketing dan pengelolaan keuangan. Saya sudah menerapkan semua itu pada usaha saya,” terang pemuda asal Demak tersebut. Berbekal pengetahuan dan kerja kerasnya itu, ia bisa mencapai peningkatan skala usaha yang signifikan seperti sekarang. Kondisi tersebut membuat Dai berani menyatakan dirinya bebas beasiswa, artinya ia merelakan uang beasiswanya tidak diterima lagi bulan berikutnya.

Pada akhir tahun 2013, Dai bisa membuka cabang baru di dekat kampusnya. Bahkan pada tahun 2014 usaha fotocopy nya ini sudah menjadi semi-percetakan karena banyak pesanan penggandaan buku dan dokumen yang ia terima. Kedepannya, Dai berharap usaha fotocopy nya ini dapat berkembang menjadi bisnis percetakan besar, yang bisa memberdayakan banyak orang.

Mengingat perjalanan hidupnya selama kuliah dan bekerja, menjadikan Dai sebagai pribadi yang kuat dan rendah hati. Kini  ia sudah bisa mengirim uang kepada orang tuanya di kampung. Tidak hanya itu,  semua karyawan yang ingin melanjutkan sekolah pun ia biayai,  berikut biaya hidup mereka sehari-hari.

Dai juga merupakan sosok yang suka menabung, semua hasil kerjanya ia tabung guna untuk membahagiakan diri dan keluarganya serta mengembangkan usahanya. Dai telah berhasil membeli dua bidang tanah di dekat gerai pertamanya yang sebagian untuk gerai dan sebagian lagi direncanakan untuk usaha indekost. Ia juga sudah berhasil memiliki tiga unit mobil dimana satu mobil dipakai sendiri, yang lain digunakannya untuk usaha rental dan kursus menyetir.

Pencapaiannya saat ini, tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia baru menyadari untuk mencapai sesuatu setelah mengikuti pelatihan MRUF. Setelah itu, ia bekerja keras untuk mencapainya. Kerja keras tak pernah mengkhianati hasil, itulah yang Dai rasakan saat ini.

Comments

Article by: Admin MRUF