Fijar Dianti – Dari Kelas, Kantin, Warung, Hingga Gedung DPR

Fijar Dianti – Dari Kelas, Kantin, Warung, Hingga Gedung DPR

Fijar, begitu ia disapa. Ia memberi keunikan dengan melapisi onde-ondenya dengan coklat yang diberi nama “Onde-Onde Onklat”. Binaan MRUF angkatan IV yang masih berkuliah di UNAIR ini mengawali bisnisnya dari kelas ke kelas.

Mendapat respon positif dari pasar, ia perluas jaringan usahanya. Ia tawarkan onde-onde coklat buatannya ke kantin sekolah di sekitar Surabaya. Ternyata proses tersebut tidak mudah. “Kita harus ikuti aturan ini itu, termasuk membuat proposal penawaran,” tutur Fijar. Mau tidak mau ia harus belajar.

Fijar terus memeperluas pasar onde-ondenya. Ia pura-pura ke warung-warung untuk mencari onde-onde. “Eh ternyata kosong. Nggak banyak yang jual onde-onde,” ceritanya. Proses ini ia ulang terus-menerus sebagai strategi pemasarannya. Ia kemudian menawarkan pemilik warung untuk memasok onde-onde dari dia. “Saya buat onde-onde yang original. Kalau dipasok yang coklat, harganya kemahalan untuk pasar warung,” jelasnya.

Namanya semakin menyebar dari mulut ke mulut. Ia pernah dicari orang sampai ke rumah kost-nya. Bahkan onde-ondenya dipesan untuk kegiatan di gedung DPRD Jawa Timur. Hampir setiap minggu ia memasok onde-onde untuk rapat anggota dewan.

Lebih dari 40 warung ia pasok setiap hari. Ia kewalahan untuk memenuhi permintaan pasar. Semula ia membuat sekitar 100-an onde-onde perhari. Jumlahnya terus meningkat hingga 1500 – 2500 apalagi saat ada pesanan. Peningkatan permintaan yang dihadapinya membuatnya kini memiliki karyawan yang terdiri dari dua adik dan satu tetangganya. Selain kemudahan, ternyata adanya karyawan juga menghadirkan tantangan untuk Fijar. Ia kerepotan mengatur keuangan. “Duh, saya bingung ini gajinya gimana. Uang pribadi juga tercampur di situ,” ungkapnya.

Sejak mendapatkan Financial Literacy Workshop dari MRUF, penataan keuangannya menjadi lebih baik. Omsetnya bisa lebih dari 15 juta rupiah perbulan. Ia bisa mengatur yang mana gaji untuk karyawan, dirinya, modal, juga tabungannya. Kini selain membuka lapangan pekerjaan, ia bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Mulai bayar sewa rumah kos, listrik, uang jajan, tabungan, hingga memiliki motor sendiri.

Atas usahanya yang kian progresif ini, Fijar menyatakan semua tidak lepas dari kerja keras atas pengorbanannya membagi waktu antara kuliah dan usaha. Selain itu ia pun tak memungkiri ada hikmah yang ia peroleh di balik sedekah.

Fijar mengatakan, dahulu awal berjualan banyak onde-onde yang sisa padahal masih empuk. Namun tanpa pikir panjang ia membagikan onde-ondenya kepada tetangga, tukang sampah, hingga pemulung. Saat ini pun juga begitu. Meski pasarnya sudah banyak, untuk jatah warung kadang terpaksa tidak terpakai karena warung mendadak libur. Tanpa pikir panjang, ia langsung putuskan untuk membagikannya di panti asuhan. Kini ia juga memberdayakan para wanita di sebuah Kecamatan untuk ikut memproduksi onde-onde.

“Saya tidak perlu bersedih, saya hanya menyempatkan diri untuk berbagi sedikit rezeki. Tapi dari situ rezeki buat saya, rasanya ada saja. Jangan pernah sombong, selalu rendah hati, ramah, sabar, ikhlas, semangat, dan berdoa, itulah yang membuat usaha semakin berkembang.“

Comments

Article by: admin