Heni, Guru Yang Bertani Jamu

Heni, Guru Bertani Jamu Mien R Uno Foundation

Heni adalah seorang kepala sekolah sekaligus guru Taman Kanak-kanak di Ciwidey. Penghasilan dari pekerjaannya sebagai guru TK tidak seberapa sehingga ia belajar bertani jamur. Heni menyatakan bahwa jamur dapat diolah juga menjadi keripik dan makanan lain sehingga harga penjualannya lebih baik. Karena semangat kewirausahaan dan keinginannya untuk maju, MRUF memberikan pembiayaan untuk mengembangkan jamur tiram ini melalui mitranya yakni Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) Mitra Sadaya. Ia merintis usaha pembudidayaan jamur tiram pada tahun 2004 di Bandung Selatan. Jamur di daerah ini berkembang dengan baik dan kualitasnya juga lebih baik dari jamur tiram dari daerah lainnya karena rendahnya tingkat polusi. Jika diamati, warna jamur di daerah Ciwidey lebih bersih.

Sebenarnya masyarakat sekitar sudah mengenal jamur sejak lama. Pada tahun 1970-an masyarakat mengambil jamur kuping dari hutan, namun suatu ketika beberapa orang keracunan sehingga usaha ini dihentikan. Sampai akhirnya mereka tergugah kembali untuk menanam jamur melalui pemberdayaan dan bantuan dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat Best CD dengan diberikannya 7000 log jamur yang dibagikan kepada 13 RW di tempatnya tinggal dalam bentuk komunitas-komunitas.

Heni juga mengenal jamur dan belajar tentang pembudi-dayaan jamur dari seorang petani alumnus IPB yang juga penjual jamur di Cianjur. Saat ini ada 10 kelompok yang masih bertahan dalam pembudidayaan jamur ini, dengan masing-masing kelompok berjumlah 4 orang. Kelompok Heni terdiri dari ia sendiri dan suaminya, Yanti dan suaminya, Tarsa. Kini mereka sudah mampu membudidayakan jamur secara mandiri. Untuk membudidayakan jamur diperlukan log. Log yang digunakan dibeli dari Bogor dan Lembang dengan harga Rp 2000 sampai dengan Rp 3000 per log nya. Log yang baik adalah serbuk sisa gergaji kayu abasia. Serbuk tersebut dimasukkan dalam wadah plastik ukuran 1 kg untuk media tumbuh jamur. Log-log tersebut kemudian disusun bertingkat dalam tempat pembiakan yang lembab. Dari masa tanam sampai dengan masa panen dibutuhkan waktu 4 bulan. Untuk setiap log-nya dihasilkan jamur sejumlah ½ kg. Kemudian, hasil panen tersebut di jual ke bandar dengan harga Rp 6000 per kg. Beberapa ada yang dijualnya sendiri ke warung atau orang, namun jumlahnya tidak banyak. Paling banyak hanya 10 kg dengan harga Rp 12.000 per kg. Bila di jual ke pasar, ia biasa menjual dengan harga Rp 8.000 per kg. Hasil penjualan ini dibagi dengan pemberi log dengan rasio 50:50. Usaha pembudidayaan jamur tiram ini, mempu-nyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan usaha budidaya yang lain. Antara lain, harga jamur yang stabil, biaya yang murah, serta penggunaan tenaga dan waktu yang sedikit. Perawatan yang dibutuhkan pun tergolong mudah, yaitu hanya dengan memberikan vitamin B kompleks. Bekas log yang digunakan juga ramah lingkungan, karena dapat digunakan untuk pupuk organik tanaman hias dan sayuran. Namun, ada juga beberapa kendala yang harus dihadapi pembudidaya jamur, antara lain serangan hama belatung, dan adanya lumut jika musim penghujan datang. Namun hal ini tidak mematahkan semangatnya, ia tetap belajar mengatasi kendala tersebut.Banyak sekali manfaat yang bisa diambil masyarakat dari adanya pemberdayaan yang telah dilakukan, diantaranya timbul rasa kekeluargaan di dalam komunitas pembudidaya jamur dan menambah persaudaraan dengan pembudidaya jamur dari tempat lain yang pernah berkunjung. Masyarakat juga bisa menambah pengetahuan dan pendapatan mereka. Heni ingin agar daerah pembudidayaan ini menjadi sentra jamur di Bandung. “Impian saya, semoga tempat ini bisa menjadi pusat jamur di Bandung. Dimana pengunjung bisa memetik sendiri jamur yang ada dan menikmatinya dengan memasak sendiri berbagai jenis kuliner jamur”, ungkapnya dengan penuh rasa optimis.

Comments

Article by: admin