Hidup Susah Dahulu Untuk Bahagia Kemudian

Hidup Susah Dahulu Untuk Bahagia Kemudian

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

-Bung Karno (Presiden Pertama Republik Indonesia)

Siapa yang tidak pernah mendengar kutipan Bung Karno diatas? Kepercayaan Bung Karno terhadap kekuatan anak bangsa dipercaya mampu mengguncang dunia. Hal ini pula yang diyakini oleh penulis karya fenomenal “9 Summers 10 Autumns”, Iwan Setyawan. “Bangsa ini bisa maju ditangan anak-anak muda yang maju” tutur Iwan saat mengawali sesi sharing bersama mahasiswa MRUF Envoy angkatan IV di Universitas Brawijaya, Malang. Ironisnya, dibalik optimisme harapan akan pemuda bangsa, Iwan melihat banyak mahasiswa di Indonesia masih belum memancarkan energi untuk maju. Menurut Iwan, semangat untuk maju harus dimulai pada masa paling kritis yang disebut dengan “Masa Muda”.

Iwan Setyawan mampu menginspirasi seluruh ruangan dengan pesan-pesan kehidupan yang dalam bahkan ketika beliau bergurau. Beliau terus menerus mengingatkan bahwa masa muda hanya datang sekali.“Create history, create something that you will remember for the rest of your life” tuturnya dengan serius. Dengan kampanye beliau yang bertajuk “Berani Hidup Susah Untuk Hidup Bahagia”, Iwan ingin menggugah hati anak muda untuk mau bekerja keras bahkan “mati-matian” selama masa mudanya agar meraup masa depan yang manis. “Kebahagiaan akan lebih manis jika diraih dengan berdarah-darah dahulu” tuturnya. “Jangan sampai lima atau sepuluh tahun lagi anda tidak memiliki kenangan manis tentang masa-masa kuliah dan menyesal karena hanya dipakai untuk main-main saja” himbau Iwan.

Agar maju dan sukses kita harus menjadi lebih unggul dari orang lain. Salah satu caranya adalah dengan menambahkan value pada diri dan setiap pekerjaan yang kita lakukan. “Don’t be average, average is boring” ungkap Iwan. Sebagai contoh, Iwan mengatakan bahwa ketika ia bekerja di New York, ia ingin agar pekerjaanya menjadi value-added. “Jika orang lain membutuhkan waktu empat jam dalam menyelesaikan tugas, maka saya harus mampu menyelesaikannya dalam waktu dua jam. Jika pekerjaan orang lain berkualitas good maka milik saya harus better” tegas Iwan.

Tidak ada yang instan dalam mencapai kebahagiaan maupun kesuksesan. Ibaratnya jika anda mau terbang tinggi, maka sayap harus dikuatkan. Membaca buku adalah salah satu cara menguatkan sayap-sayap para penerus bangsa, terlebih lagi dengan membaca karya sastra. Menurut Iwan Setyawan, karya sastra mampu melembutkan hati dan membantu manusia untuk lebih cerdas dalam menjalani kehidupan. Hal ini ia ungkapkan berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri. Iwan mengakui bahwa dulu ia bukanlah penggemar karya sastra ataupun novel. Namun pada saat berada di New York, sahabatnya Robby Muhammad “memaksanya” untuk membaca sebuah karya JD Salinger yang berjudul The Catcher in the Rye. Buku tersebut mampu mentransformasi Iwan menjadi tokoh utamanya disaat ia membaca buku tersebut. Tidak heran hanya dalam waktu dua hari buku itu pun terselesaikan. Semenjak saat itu Iwan pun semakin tergila-gila dengan karya sastra. Iwan menekankan bahwa karya sastra mampu mendampingi manusia untuk menjadi lebih “Smart in Life” serta memahami nilai estetis akan suatu hal.

“Kenapa Iphone bisa begitu sophisticated?” tanyanya kepada semua mahasiswa MRUF. Menurut beliau, banyak handphone atau gadget lain yang fiturnya menyerupai Iphone, tapi belum ada yang bisa menyamai keindahan dari Iphone. Keunggulan Iphone tentunya tidak lepas dari pemahaman Steve Jobs terhadap tipografi. “Steve Jobs mengerti keindahan” tutur Iwan. Dengan mengerti keindahan seseorang mampu menghasilkan sebuah karya yang nilainya sangat tinggi dimata masyarakat.

Selain itu, karya sastra juga mampu melembutkan hati manusia. “Banyak orang yang pintar akhirnya hidupnya nyasar-nyasar atau tidak kemana-mana karena mereka tidak punya hati. Karena mereka tidak tahu hidupnya mau dibawa ke mana, Karena mereka tidak punya personality” ungkap Iwan. Akan menjadi suatu kebiasaan yang sangat baik apabila di usia muda kita mulai membaca. Karya sastra milik anak bangsa, seperti karya Pramoedya Ananta Toer adalah luar biasa dan sayang untuk dilewatkan. Kebiasaan untuk membaca pun bisa dimulai dengan mencoba mengenal karya-karya anak bangsa. “Baca literatur-literatur yang bisa bikin hatimu meleleh. Jangan nonton sinetron yang bisa bikin nangis-nangis tapi garing” canda Iwan.

Saat ini stigma keren bukan lagi ditentukan pada baju, celana atau gadget yang kalian gunakan. “Smart is the new cool, orang dengan intelektualitas adalah keren, dan Geek is sexy” gema Iwan di seluruh ruangan. Keren  adalah seberapa banyak pengetahuan dan ilmu yang kalian dapatkan dari membaca buku. Bagaimana anak muda zaman sekarang mampu membangun intelektualitas setinggi-tingginya. Internet saat ini menjadikan anak muda di Batu, Malang sama anak muda di kota New York ataupun San Fransisco. Hanya intelektualitas lah yang membedakan setiap individu di zaman ini.

by Michelle Loebis

Comments

Article by: admin