Mampu Mandiri Meski Difabel

Mampu Mandiri Meski Difabel

Dua puluh tahun, Isnaini, demikian namanya tidak mengenal dunia luar. Aktivitasnya hanya dari tempat tidur ke kamar mandi. Ia menghabiskan waktu tanpa sekolah di rumahnya di kawasan Ringin Larik Musuk Boyolali. Kini ia merasa hidup, setelah sekian lama merasa mati. Ia mampu membeli sepeda motor khusus yang dibelinya dari hasil berjualan rajutan.

Isnaini dan rekan-rekannya menceritakan kisahnya saat rombongan Sandiaga Uno dan Mien R. Uno Foundation bertandang ke rumahnya yang juga markas sanggar inklusi Ramadhan lalu.

Is dilahirkan normal, sampai suatu saat ketika berusia 9 bulan terjatuh dari gendongan sehingga kakinya tidak bisa digerakkan.  Tulang belakangnya patah hingga seumur hidup bergantung pada kursi roda. Karena kondisi fisiknya tersebut, orang tuanya tidak menyekolahkannya. Segala penderitan sebagai difabel sudah dialaminya, mulai masih kecil sampai menjelang dewasa.

“Saya lumpuh total waktu itu. Sampai saya agak besar, orang tua tidak bisa membawa saya kemana-mana.  Saya ingin bisa ikut sekolah seperti teman-teman tapi sampai sekarang tidak bisa saya tempuh. Selama dua puluh tahun itu, saya sering mendapatkan perlakuan yang diskiriminatif, mulai disingkirkan, dilecehkan, semua pernah saya alami,”paparnya.

Saat usianya 21 tahun atau tahun 97 lalu, setelah mendengar berita di radio, Isnaini  melayangkan surat untuk belajar keterampilan ke balai besar rehabilitasi sosial binadaksa Prof. Dr. Soeharso Surakarta atau lebih dikenal dengan sebutan RC Solo, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Pihak RC menanggapi positif.
Setelah itu, orang tuanya merestuinya untuk belajar di sana. Inilah awal dari dunia barunya. Saat itu, ia ingin belajar menjahit, namun, pihak RC lebih mengarahkan untuk belajar menganyam. Disini dia melajar cara membuat keset, taplak, dan gantungan baju. Setelah belajar setahun di RC ia bekerja pada seorang desainer selama 1 tahun.

Dari pengalamannya, akhirnya teman-teman RC mengajaknya membentuk forum komunikasi difabel Boyolali (FKDB). Karena semangatnya yang tinggi untuk merintis sanggar bagi kaum difabel, dipercaya di forum tersebut untuk mengelola sanggar inklusi. Awalnya, ia tidak yakin dengan kemampuannya. Dengan bantuan salah satu LSM, Isnaini dan teman-teman sanggar diberikan pendampingan dan didorong untuk berkarya.

Sambil berjalan, mereka merintis usaha. Kini, sanggar inklusi Tunas Harapan yang dikelolanya telah menaungi sebanyak 24 orang. Tujuh anak berkebutuhan khusus, lainnya difabel dewasa dan para orang tua anak berkebutuhan khusus. Dengan segala keterbatasan fisik, para difable yang tergabung dalam sanggar dapat merintis usaha yang memproduksi tas, sepatu, dan baju rajutan tangan; kripik labu, krupuk susu, dan pangsit wortel; juga konveksi. Mereka bahkan ingin memperkerjakan non difabel.

Comments

Article by: Admin MRUF

You may also like these posts
MRUF ENVOY VIII Mengunjungi MPM RentHidup Bermanfaat dari Jiwa Entrepreneur