Melalui Usaha Jasa Bersih Kost, Mampu Bebas Dari Beasiswa

Melalui Usaha Jasa Bersih Kost, Mampu Bebas Dari Beasiswa

Open your eyes, look within. Are you satisfied with the life you are living?” – Bob Marley. Penggalan kalimat tersebut sangat tepat untuk menggambarkan niat awal dari seorang pengusaha muda bernama Nanda Juanda. Bagaimana tidak? Kesulitan ekonomi yang dialaminya selama menjalani kuliah akhirnya mampu mendorongnya untuk bekerja keras memulai usaha demi untuk bertahan hidup di kota pelajar, Yogyakarta.

Dimulai dari usaha es dawet ayu dan video dokumentasi, dirinya mencoba mencari peruntungan agar mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Waktu, tenaga dan gengsinya ia korbankan agar sekedar bisa makan, bayar kosan dan kebutuhan kuliah lainnya. Sungguh suatu potret yang amat jarang ditemui pada mahasiswa perkotaan di masa sekarang. Lama berselang, usaha es dawetnya tertipu oleh orang tak bertanggung jawab dan usaha video dokumentasi juga ia tinggalkan karena memberatkan hatinya.

Waktu terus berjalan, tidak terasa tiga bulan sudah dirinya bertahan hidup tanpa menjalankan usaha apapun. Kondisinyapun semakin memprihatinkan karena tidak ada sama sekali penghasilan yang bisa ia dapatkan. Alhasil, dirinya harus rela bernomaden dari satu kamar kost ke kamar kost milik teman-temannya untuk sekedar bisa merebahkan diri mana kala malam dan lelah mulai menghampiri.

Tidak hanya sampai di situ, pada masa-masa sulitnya tersebut, kebutuhan sehari-hari dan kuliahnyapun dibiayai oleh teman-temannya. Beruntung dirinya memiliki teman yang rela membersamainya dikala suka dan duka, walau tidak sedikit pula yang mencibirnya karena ketidakberdayaannya saat itu. ”Saat itu aku ngekost pun menginap di rumah teman-teman, makan dibayari teman, ke kampus nebeng teman karena tidak ada uang untuk beli bensin, bahkan mengerjakan tugas pun minta tolong print di tempat teman. Alhamdulillah bersyukur sekali waktu itu punya teman-teman yang amat baik, walaupun banyak juga yang gak seneng sama aku”, ujar lelaki yang akrab dipanggil Nanda ini.

Suatu hari dirinya membaca Koran dan matanya tertuju pada lembar lowongan kerja dan jasa: “dibutuhkan jasa cleaning service rumah panggilan”. Pikirannyapun melayang hingga terbesit untuk membuat usaha jasa cleaning service khusus kost. Sulung dari 8 bersaudara ini lantas mencoba untuk membuka iklan di salah satu forum jual beli online sebagai jasa cleaning service “Jogka Kost Clean” khusus kost di Yogyakarta. Bagai gayung bersambut, tiga hari kemudian datanglah job pertama untuknya. Dirinya yang belum memiliki peralatan kebersihan untuk menunjang usahanya berusaha mencari pinjaman alat kepada teman-temannya. Hingga akhirnya, ia mendapatkan pinjaman tersebut dari salah satu temannya yang juga seorang takmir masjid.

“Saya mencari pinjaman alat kesana kemari untuk memulai usaha ini, dan saya dapat pinjaman dari teman saya yang kebetulan takmir masjid, kebetulan peralatannya lengkap; ada sapu, pel, kemoceng, lap, sikat wc dan vacuum cleaner. Saya minta juga obat pel dan pembersihnya. Tapi saya janji bakalan ngasih 20% dari uang saya untuk kotak amal mesjid”, jelasnya sumringah.

Debut pertamanya sebagai seorang kost cleaner dimulai pada 12 Mei 2013. Dari situ ia mendapatkan upah sebesar 75 Ribu Rupiah setelah bekerja selama 5 jam membersihkan kamar kost pelanggan pertamanya itu. Uang tersebut kemudian ia sisihkan untuk masjid, sehingga dari debut perdananya itu ia berhasil mendapatkan uang 55 Ribu Rupiah. Angka yang lumayan untuk bertahan hidup selama beberapa hari ke depan. Setelahnya, ia kembali mendapatkan orderan jasa bersih kos di 3-5 kamar kos dalam seminggu. Usahanya laris hingga menghasilkan omzet 800 Ribu Rupiah perbulan.

Dengan kegigihan dan semangat kerja kerasnya, dirinya terus berusaha mengembangkan usahanya, pada Agustus 2013, dirinya terpilih menjadi salah satu penerima program beasiswa wirausaha Mien R. Uno Foundation. Di program ini dirinya terus ditempa untuk menjadi pengusaha muda handal. Serangkaian kegiatan diikutinya, mulai dari training sampai coaching. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai merangkak naik dan melakukan pengembangan.

Dalam enam bulan masa program, Jogja Kost Clean berhasil mengembangkan bidang usaha. “Usaha saya dulu sangat sederhana dan terbatas. Dengan program ini saya bisa memperluas jangkauan dan layanan”, tukas mahasiswa Ilmu Komunikasi dan Penyiaran Islam ini. Usahanya kini sudah menangani beberapa kost eksekutif di daerah Yogyakarta. Selain itu, JKC sudah menambah layanannya dengan jasa bersih-bersih rumah, kantor, jasa pengecatan, jasa pindahan kost atau pindahan rumah serta laundry. Untuk memaksimalkan pelayanan, Nanda merekrut beberapa pegawai. Setidaknya tujuh pegawai direkrut dalam menjalankan usahanya ini.

Setidaknya omzet 10-13 Juta Rupiah mampu diraup perbulannya. Suatu angka yang fantastis bagi pria asal Magelang yang memiliki ayah seorang supir truk dan ibu yang tidak bekerja. Kesuksesannya ini tidak lantas membuatnya berpuas diri. Nanda yang sudah merasa mandiri secara finansial dengan usahanya, pada bulan Maret 2013 menyatakan bebas beasiswa dari program yang turut andil dalam membesarkan bisnisnya ini. Nanda kini menjadi tulang punggung bagi keluarga dan telah membantu membiayai biaya sekolah empat orang dari tujuh orang adik-adiknya.

Kesulitan ekonomi harusnya tidak menjadikan seseorang berpasrah diri menerima nasib yang membelitnya. Nanda Juanda adalah potret sempurna pemuda teguh dan pantang menyerah. Darinya kita belajar bahwa keterbatasan ekonomi tidak lantas membuat kita menjadi orang yang terbatas. Namun, keterbatasan ekonomi justru harus bisa membuat kita menjadi orang yang tidak terbatas. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, dan tidak ada kata selesai untuk meneruskan.

Comments

Article by: Admin MRUF