Titin, Pedagang Pakaian yang Kreatif

Melihat Teh Titin (34) sekilas, orang tidak akan menyangka bahwa dia adalah pemilik empat kios pakaian di Pasar Tenjolaya Bogor. Dalam kesederhanannya, Titin adalah pelaku usaha kecil yang sukses dan pintar melihat peluang bisnis sekaligus tangguh. Tidak heran jika usahanya berkembang dan berjalan dengan baik sampai sekarang.

Dukungan fasilitas pembiayaan turut membantu usahanya dengan menambah barang yang dijual melalui kredit yang didapatkannya dari mitra Mien R. Uno Foundation yakni BMT Tadbiirul Ummah Dramaga Bogor, tanpa harus mengganggu cash flow usahanya. Dengan model penjualan kredit, perputaran uangnya relatif lambat, sehingga tambahan modal kerja sangat membantu Titin untuk memperbesar pasarnya.

Titin pernah mengalami pasang surut usaha, beberapa usaha pernah dijalaninya mulai dari menjual gorengan dan jajanan anak-anak dirumah, kreditan, sampai akhirnya menekuni usaha jual beli pakaian, usaha yang digelutinya sekarang.

Usaha ini telah menghantarkannya memiliki aset usaha sekitar Rp 80 juta diluar aset pribadi berupa rumah dan tanah. Usaha jual beli pakaian ini juga tidak langsung sebesar sekarang, Titin memulainya dari berdagang keliling kampung dengan sistem kredit.

Titin adalah sosok yang positif, melihat sesuatu secara jernih, bahkan masalah keluarga dapat menjadi sumber usaha. Suatu kali anaknya sakit demam, sehingga memerlukan jaket. Saat itu usahanya belum lancar, ia hanya memiliki uang Rp 7500. Berbekal uang pas-pasan ia menghampiri sebuah toko pakaian. Beruntung ada jaket yang dijual rugi, namun harganya Rp 15.000. Titin melihat jaket anak-anak tersebut bagus kemudian muncul idenya untuk menanyakan kepada pemilik toko agar ia bisa membantu menjual. Singkat cerita pemilik toko meminta Titin membawa semua jaketnya dan Titin menjual semuanya.

Jiwa wirausaha Titin sangat kental, sehingga ia selalu menangkap peluang yang ada dalam berbagai kesempatan. Dituturkannya, suatu kali dalam sebuah pengajian, ibu-ibu membicarakan munculnya alat penanak dan penghangat nasi. Ibu-ibu tersebut ingin memiliki namun tidak sanggup membayar kontan. Titin langsung menyanggupi untuk menyediakan alat tersebut, padahal ia belum pernah melihat barang yang dimaksud. Titin baru mengetahui wujud barang tersebut setelah datang ke toko. Dengan kepandaian negoisasinya, pemilik toko membolehkannya membawa 30 alat penanak dan pengangat nasi. Titin berani mengambil resiko karena sudah ada pemesan yang siap membeli alat tersebut.

Pernah suatu kali, Titin salah membawa barang kepada kelompok pengajiannya. Saat itu ibu-ibu memesan dispenser, namun karena belum tahu perabot yang dimaksud, ia membawakan sampel lampu senter yang digunakan jika listrik mati. Sampai saai ini, lampu tersebut masih disimpannya sebagai kenang-kenangan.

Comments

Article by: admin