Menebar Manfaat melalui Bisnis Percetakan

Menebar Manfaat melalui Bisnis Percetakan

Mochammad Haririe, terlahir sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara, tidak lantas membuatnya diperlakukan istimewa. Orangtuanya yang bekerja sebagai buruh tani, membuat Haririe terbiasa hidup mandiri untuk memenuhi kebutuhannya. Berbagai pekerjaan ia lakoni mulai dari berjualan buah-buahan, gorengan, hingga berjualan es batu keliling di kampungnya setiap subuh dan sore hari. Tidak hanya itu, Haririe juga harus merelakan waktu mainnya guna mencari rumput untuk pakan kambing ternak keluarganya. Meskipun penuh dengan keterbatasan, Haririe enggan untuk mengatakan bahwa dirinya berasal dari keluarga miskin. Hal ini lantaran menurutnya, ayahnya tidak pernah membiarkan keluarganya kelaparan, dan ia pun sudah cukup bersyukur dengan hal tersebut.

Di kampungnya, mayoritas warga bekerja sebagai buruh tani dan buruh pabrik. Tak heran saat lulus SMK, Haririe ingin sekali bisa bekerja di salah satu pabrik ternama. Akan tetapi pada kenyataannya, bekerja di pabrik tidak mudah dan menyenangkan seperti yang dibayangkan. Dia pernah bekerja dengan upah hanya Rp 80.000/minggu, dengan jam kerja lebih dari 12 jam setiap harinya. Tidak puas dengan itu, Haririe pun terus berusaha mencari berbagai perkerjaan yang mampu mendatangkan penghasilan bagi penghidupannya. Tak heran jika hampir semua pekerjaan pernah ia lakoni, dari menjadi kuli bangunan hingga kerja kantoran. Akan tetapi, Haririe merasa penghasilan yang ia dapatkan dari bekerja tidak sebanding dengan beban kerja yang ia emban. Akhirnya ia memutuskan untuk resign dari perusahaan tempatnya bekerja.

Suatu ketika, Haririe mendapatkan pesan dari kakak perempuannya,“Kamu itu anak laki-laki dan bungsu. Kamu harus menjadi pembeda dari kakak-kakak kita. Lihat mereka untuk mengurus kebutuhan keluarganya sendiri juga berat bagaimana bisa untuk membantu ekonomi orang tua”. Pesan itulah yang mampu merubah pemikiran dan jalan hidupnya, hingga tanpa ragu ia memberanikan diri dan bertekad untuk menjadi seorang wirausaha.

Haririe mengawali karirnya sebagai wirausaha dengan berjualan aksesoris dan dompet di jalan Malioboro, Yogyakarta. Kemudian ia beralih usaha pembuatan kemeja batik bola, sablon kaos, hingga usaha membuat mahar dari uang. Kendati harus menempuh jarak puluhan kilometer dengan menggunakan sepeda dari rumah ke tempat ia berdagang, tak lantas membuat Haririe kehabisan semangat. Ia percaya bahwa usaha keras yang ia jalani pasti akan membuahkan hasil yang baik dan berkah untuk dirinya dan keluarganya.
Sebagai mahasiswa Ilmu Manajemen, Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Haririe merasa bahwa ilmu yang ia dapatkan dibangku perkuliahan tidaklah cukup. Menurutnya, justru ilmu yang didapat dari berwirausaha dirasa akan jauh lebih besar manfaatnya. Hal itulah yang kemudian mengantarkannya kepada bisnis yang saat ini digelutinya, yakni bisnis percetakan yang diberi nama Percetakan Harfeey.
Awal mula Haririe menjalani bisnis percetakan ialah dari keprihatinannya terhadap penerbit indie yang kesulitan mencari percetakan buku dalam jumlah sedikit. Berbekal ilmu yang didapat dari kakaknya yang bekerja disebuah penerbit indie, Haririe mencari tahu bagaimana caranya agar dapat mencetak buku secara efektif dan efisien, khususnya dalam segi biaya produksi. Setelah dirasa mantap, ia pun nekat membeli mesin binding atau jilid guna mengawali karirnya sebagai pengusaha percetakan.

Kenekatannya ini berbuah manis. Pesanan demi pesanan terus mengalir, hingga ia kewalahan menghadapi berbagai pesanan seorang diri. Ia pun memutuskan untuk bermitra dengan percetakan lain agar dapat menghemat ongkos produksi dan meminimalisir waktu cetak. Dari pengalamannya tersebut, terbesit di benak Haririe untuk terus membantu penerbit indie lain. Tak peduli seberapa banyak rintangan yang kerap ia hadapi, Haririe tetap konsisten dalam menjalaninya.

“Ya kulit saya belang, kena asap knalpot dan sengatan matahari setiap hari. Terlebih kalau melihat orang lain yang seumuran dengan saya membonceng pasangannya sedangkan saya membonceng tumpukan kertas dan kardus, miris rasanya, haha”, kalimat itu terlontar dari mulut Haririe saat ditanya kesan pribadi saat menjalani bisnis ini. Ditengah candaannya Haririe pun mengatakan untuk meraih sebuah kesuksesan memang harus dimulai dengan merasakan banyak penderitaan.

Berbagai cerita dan masalah dalam bisnis pun telah dilewati oleh Haririe. Bisnisnya perlahan semakin berkembang. Terlebih saat Haririe mendapatkan beasiswa wirausaha dari Mien R Uno Foundation, dimana ia merasa mendapatkan banyak manfaat dalam hal relasi, manajemen usaha, perencanaan bisnis, marketing, hingga hal teknis lainnya. Beasiswa MRUF ENVOY membawa Haririe menjadi seorang entrepreneur yang tidak hanya sekadar mahir berdagang namun juga mahir dalam berbagai hal, seperti manajemen waktu, membuat perencanaan usaha sampai detail implementasinya, manajemen keuangan dan yang paling penting adalah pola pikir pengusaha yang disiplin dan pantang menyerah.

Peningkatan pendapatan pun dirasakannya. Tidak tanggung-tanggung, omzetnya saat ini sudah meningkat hingga 300%. Haririe pun telah menambah satu orang karyawan untuk membantu usahanya. Bagi Haririe, pendapatan yang besar tentunya adalah rezeki yang luar biasa karena melalui usaha ini Haririe dapat membiayai hidup dirinya, keluarganya, bahkan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.

Saat ini Haririe bersama dengan kakaknya sedang menabung untuk membiayai perjalanan Haji kedua orang tuanya. “Sungguh kebahagiaan yang amat sangat bisa ikut memberikan ini untuk orang tua, semoga usaha yang saya geluti ini bisa membantu mengantarkan Ayah dan Ibu menuju Tanah Suci.”,ucap Haririe dengan berbinar-binar. “Tidak akan terasa nikmatnya sebuah kesuksesan sampai kamu bisa bermanfaat untuk orang disampingmu. Teruslah bekerja keras, luruskan niat dan berdoalah, maka kalian akan menuai hasilnya”tegas mahasiswa MRUF ENVOY VII ini. (RII)

read review

Comments

Article by: Admin MRUF

You may also like these posts
Kenali Bisnismu di Training 2 MRUF ENVOY VIIIMelihat Langsung Usaha Pengembangan Industri kreatif di Rumah Batik TBIG