Mengajarkan Entrepreneurship

Mengajarkan Entrepreneurship

Menginjak abad ke-21, masyarakat semakin memandang penting arti entrepreneur, contohnya saja makin banyak yang meyakini rule of thumb negara yang sejahtera ditentukan oleh persentase entrepreneur. Selain itu, semakin banyak anak muda yang bercita-cita menjadi entrepreneur. Bahkan tidak sedikit anak muda yang sudah merintis bisnisnya di bangku sekolah. Orang tua dan sekolah perlu merespon minat entrepreneur muda ini dengan memfasilitasi pendidikan entrepreneur yang tepat di sekolah. Jika tidak, bisa saja generasi muda salah tempat dalam mencari ilmu entrepreneurship dan akhirnya terjerumus. Lalu, pendidikan entrepreneurship yang tepat itu seperti apa?

Sejauh ini, tidak ada pengertian yang baku tentang entrepreneur. Sulit menentukan pendidikan entrepreneurship yang tepat untuk digunakan jika mendasarkan hanya pada definisi. Entrepreneurship itu mental, mental yang terlihat dari behavior (kebiasaan) seseorang. Untuk menanamkan mental entrepreneur dalam diri seseorang, lingkungan memiliki peranan besar terutama orang tua dan sekolah. Ada beberapa praktik yang bisa dilakukan untuk membantu mengembangkan mental entrepreneur anak.

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menolong anak untuk bisa menolong dirinya sendiri. Sekolah menengah pertama di Finlandia tidak menjejalkan banyak teori kepada anak didik mereka. mereka tidak banyak disuapi untuk bisa memahami pelajaran. Untuk belajar geografi, mereka diberi tugas melengkapi blog internal sekolah. Jangka waktu yang diberikan adalah satu bulan. Dengan koneksi internet, guru dapat memantau perkembangan pekerjaan dan sesama siswa bisa saling mengoreksi pekerjaan temannya sehingga kemampuan kerja sama mereka meningkat. Dengan metode belajar seperti ini, kemampuan entrepreneur meningkat.

 

Ed Carryer

Ada pula Ed Carryer, dosen Universitas Stanford. Ia pernah memberikan proyek semester pekada para mahasiswanya, menangkap kepiting dari jarak jauh. Untuk menyelesaikan tantangan ini, mahasiswa harus membuat peralatan berkendali jarak jauh dengan mengaplikasikan teori yang pernah diajarkan selama tiga tahun kuliah. Tantangan ini juga hanya bisa diselesaikan dengan menggabungkan ilmu-ilmu dari berbagai jurusan. Oleh karena itu, mahasiswa harus bekerja sama antarjurusan yang berbeda jika ingin menyelesaikannya. Dengan berbagai tantangan tersebut, Ed Carryer mampu mengembangkan pola pikir yang baik, terbukti berbagai inovasi teknologi dari Silicon Valley berasal dari alumni-alumni kelasnya.

 

David Sengeh

Sementara itu, orang tua bisa mengembangkan mental entrepreneur anak dengan mempercayai anak dan mengembangkan pola berpikirnya. Ini bisa dilakukan dengan menyediakan mentor bagi anak. Orang tua David Sengeh, pemuda dari Sierra Leone, mendorong anaknya untuk banyak membaca. Tidak hanya itu, orang tuanya selalu bertanya, “apa yang kamu dapat dari buku itu?” sehingga David terbiasa untuk berdiskusi. Ayah David juga sering membawa rekan kerjanya ke rumah agar David bisa lebih banyak berdiskusi dengan mereka. Hal ini membuat pola pikirnya berkembang dan kepercayaan dirinya tumbuh. Orang tua dan rekan-rekan kerja mereka menjadi mentor untuk perkembangan David sejak dini. Tidak heran kalau usahanya mengatasi malaria di Global Minimum, jauh lebih berhasil daripada program sama yang dilakukan oleh UNICEF.

Dua hal tersebut, membantu anak untuk bisa menolong dirinya sendiri dan menyediakan mentor, sangat efektif dalam mengembangkan mental entrepreneur pada anak. Ketiga praktik di atas bisa menjadi referensi untuk melakukannya.

National Educators Conference 2012

 

Comments

Article by: admin