Merawat Indonesia dengan Esai

Mien R Uno Foundation Merawat Indonesia Dengan Esai
Banyak perubahan dan inspirasi yang lahir dari sebuah tulisan. Oleh karena itu, banyak kalangan memanfaatkan media tulisan untuk mendorong sebuah agenda.

Kewirausahaan merupakan salah satu agenda penting terutama karena masih kurangnya jumlah pengusaha sehingga dibutuhkan pegiat-pegiat kewirausahaan melalui tulisan. Hal inilah yang mendorong keterlibatan Mien R. Uno Foundation (MRUF) untuk mendukung inisiatif TEMPO Institut dalam menggelar Kompetisi Esai Mahasiswa 2010 yang memasukkan kewirausahaan sebagai salah satu topiknya.

Kompetisi Esai Mahasiswa 2010 ini merupakan sebuah ikhtiar merawat negeri yang bhinneka, tahun kedua dalam rangkaian kegiatan Kompetisi Esai Mahasiswa “Menjadi Indonesia”. Kegiatan ini adalah kerja sama TEMPO Institut, Sekretariat Dewan Ketahanan Nasional, Perhimpunan Indonesia Tionghoa, didukung oleh President University, MRUF, dan PLN.

Kompetisi Esai Mahasiswa 2010 ini merupakan sebuah ikhtiar merawat negeri yang bhinneka

Tema yang diusung pada penyelenggaraan tahun ini adalah “Nasionalisme ala Gue”, dengan empat sub tema yang dapat dipilih peserta yaitu budaya, ekonomi-kewirausahaan, kepemimpinan, dan sosial. Pada tanggal 12 November 2010, para pemenang KEM 2010 ditetapkan dalam sebuah sidang Dewan Juri di kantor Redaksi Majalah TEMPO. Dewan Juri yang terdiri dari Munawar Fuad (Dosen President University), L.R. Baskoro (Redaktur TEMPO), Muhammad Maulana (MRUF), Tamrin Amal Tomagola (Sosiolog), Idrus F. Shahab (Redaktur TEMPO), dan Jaleswari Pramodawardani (Peneliti LIPI) telah memilih 20 orang finalis.

Bagi tiga pemenang utama menerima hadiah sejumlah uang tunai dan sebuah komputer jinjing. Juga untuk para pemenang utama bersama dengan 17 kandidat terbaik lainnya diberi kesempatan mengikuti kemah menulis yang diselenggarakan di Wisma TEMPO Sirnagalih, Megamendung, pada 24-28 Oktober 2010.

“Banyak sekali ide yang bagus-bagus dan segar, kita menjadi susah untuk menentukan pemenangnya”, ujar Jaleswari Pramodawardani sebagai salah satu anggota Dewan Juri KEM 2010. Selain itu dia juga mengakui betapa sulitnya menulis esai, terlebih dalam kalangan mahasiswa di mana kegiatan menulis selalu berputar pada tugas-tugas ilmiah yang serba kaku. “Sehingga jarang sekali muncul ide yang orisinal”, tambahnya.

Adapun tiga pemenang utama adalah Raisa Kamila, dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan esai “Tidak Menjadi Indonesia”, pemenang kedua Achmad Fawaid, dari UGM dengan judul “Perpustakaan, Budaya Baca, dan Bangsa Bibliofil”, dan pemenang ketiga M. Lubabun Ni’am Asshibbamal dari UGM, “Yogyakarta Lepas dari Jebakan ‘Nasionalisme Batik’”.

Menurut Muhammad Maulana, seharusnya lebih banyak anak muda yang menulis mengenai kewirausahaan sehingga tema ini akan menjadi atmosfer yang positif bagi tumbuhnya wirausaha baru. Penyelenggaraan KEM 2010 patut diapresiasi sebagai ajang yang positif untuk menyalurkan pemikiran mahasiswa Indonesia terhadap kondisi bangsa.

Comments

Article by: admin