MRUF bantu Pengelolaan Keuangan Usaha di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

MRUF bantu Pengelolaan Keuangan Usaha di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa

“Mau bingiiiits!” teriak seorang remaja laki-laki dengan antusias menanggapi pertanyaan pelatih mengenai keinginan mereka untuk menjadi wirausahawan. Puluhan remaja lain yang berada di dalam ruangan sontak tertawa mendengarnya.

Begitulah audiens yang dihadapi Nanang Suryanto dan Setiawan dalam sesi pelatihan keuangan untuk usaha di Institut Kemandirian Dompet Dhuafa 7 April lalu, terdiri dari puluhan remaja yang masih kentara gairah mudanya.

Dalam sesi perdana pelatihan keuangan tersebut, MRUF menyampaikan materi yang terbilang umum tetapi sangat fundamental untuk keberlangsungan suatu usaha, yakni penentuan harga pokok penjualan (HPP), laba rugi, serta break event point (BEP) atau titik balik modal. Para peserta dilatih untuk memahami bagaimana membangun usaha yang sehat dan adaptif, dengan kata lain menghasilkan keuntungan, melalui penentuan HPP dan BEP suatu usaha. “Banyak pelaku usaha yang menyangka usahanya sudah untung padahal banyak biaya yang belum dimasukan komponen perhitungan,” ujar para trainer. Untuk menghindari hal ini, para pelaku usaha harus disadarkan melalui pelatihan.

Para peserta program kemandirian Dompet Dhuafa tersebut akan menjalani berbagai pelatihan keterampilan selama tiga bulan ke depan di Karawaci, Tangerang. Tak semua berasal dari daerah Tangerang dan sekitarnya, beberapa harus meninggalkan kampungnya dan menyeberangi laut untuk dapat mengikuti program kemandirian ini. Semuanya memiliki satu harapan: menjadi bagian dari angkatan kerja yang terampil sehingga dapat memperbaiki taraf hidup mereka.

Program kemandirian Dompet Dhuafa mewadahi para remaja dhuafa ini untuk memperoleh keterampilan sesuai minat dan bakat mereka. Program pendidikan vokasional yang diselenggarakan dibagi menjadi empat bidang, yakni otomotif, fashion, teknisi handphone, serta IT dan desain. Jika tiba masa penjurusan, mereka bebas untuk menentukan bidang mana yang ingin ditekuni.

Dompet Dhuafa berharap agar sebagian pemuda-pemudi binaan mereka kelak tidak hanya bekerja pada orang lain melainkan juga memilih jalur berwirausaha. Berwirausaha menuntut seseorang untuk benar-benar berdiri di atas kaki sendiri, oleh karenanya bukan perkara mudah mendorong seseorang—apalagi remaja belia—untuk memantapkan diri menjadi pengusaha. Keterampilan teknis (hard skill) seperti menjahit misalnya, belum cukup untuk membawa seseorang menjadi juragan busana. Mengantisipasi hal ini, Dompet Dhuafa menggandeng Mien R. Uno Foundation untuk menanamkan modal awal dalam berwirausaha: motivasi diri serta keterampilan mengelola keuangan usaha.

Sebagaimana proses pembelajaran baru, para peserta kerap menampakkan wajah bingung selama sesi pelatihan. Namun, tak berarti mereka kapok belajar. Usai pelatihan, hampir seluruh peserta malah menyatakan keinginan untuk mempelajari materi pengelolaan keuangan lebih lanjut.

Comments

Article by: Admin MRUF