Pendidikan Entrepreneur dimulai dari keluarga – TP Rachmat

Pendidikan Entrepreneur dimulai dari keluarga – TP Rachmat

Kesuksesan seseorang salah satunya ditentukan oleh filosofi hidup yang dijadikan pegangan dalam perilaku dan tindakan keseharian. Pada mereka yang telah mencapai kesuksesan, terdapat segudang nilai dan pengetahuan sebagai pemandu hidup untuk dipelajari bersama. Karena itu, banyak kearifan (wisdom) yang dapat dipetik, tentang bagaimana menjalankan bisnis dalam kehidupan ini dengan benar sehingga mampu mencapai kesuksesan, kemuliaan dan tentunya kebahagiaan.

Kesempatan Tim Mien R Uno Foundation (MRUF) bertemu dan melakukan interview dengan mantan CEO PT Astra Internasional dan kini sebagai pemilik Triputra Group, Bapak Theodore Permadi Rahmat (TP Rahmat), pada hari Selasa (16/10) adalah sesuatu yang sangat berharga. Setidaknya, ada beberapa wisdom yang dapat menjadi panduan para entrepreneur muda. Tentu saja apa yang disampaikan dalam artikel ini sifatnya rangkuman dari kedalaman nilai dan luasnya pengetahuan beliau. Adapun pertanyaan intinya adalah, bagaimana entrepreneurship dapat tumbuh pada jiwa setiap anak bangsa. Berikut ini pandangan T.P. Rachmat dalam upaya menumbuhkan jiwa entrepreneur dalam diri setiap orang.

 

Pendidikan Entrepreneur Dimulai di Keluarga

Untuk mengembangkan entrepreneurship, tidak cukup dengan pendidikan formal, seminar motivasi dan berbagai pelatihan yang kini menjamur. Esensi dasarnya adalah harus dibangun dari mindset-nya. Entrepreneurship tidak hanya terkait dengan bisnis, tapi meliputi semua bidang dan profesi. Artinya, entrepreneurship harus dipahami secara luas, misalnya di bidang pemerintahan, olah raga, sains, kedokteran, dan berbagai profesi lainnya. Jika nilai tersebut masuk ke berbagai profesi tersebut, diyakini akan memberikan dampak positif. Kata kuncinya adalah nilai tambah dan kemanfaatan bagi alam dan orang lain.

Pondasi dasar mindset entrepreneurship ada dalam lingkungan mikro seseorang bernama keluarga. Di keluarga lah, nilai-nilai itu ditanamkan, disirami dan ditumbuhkan. Keluarga lah penentu, apakah seseorang bertumbuh sebagai sosok yang punya jiwa entrepreneur atau tidak. Keteladanan dan nilai-nilai hidup yang tumbuh dari orang tua menjadi penentu. Di keluarga lah, awal proses pembelajaran tentang hidup dimulai. Karena itu, peran dan fungsi keluarga menempati posisi pertama dalam menanamkan mindset entrepreneurship.

Orang tua harusnya menyadari tugas mulia untuk menjadikan setiap anaknya sebagai pribadi-pribadi hebat. Ajari dan berikan keteladanan mengenai moralitas, tanggungjawab, pantang menyerah, kreatif, menghormati, peduli dan menghargai sesama juga selalu ingin menjadi yang terbaik dalam berbagai hal. Tunjukanlah bahwa kemuliaan akhlak pribadi sebagai kekuatan utama untuk meraih sukses dan kebahagiaan. Ingatkanlah bahwa manusia harus meninggalkan yang terbaik dan bermanfaat bagi banyak orang dalam hidupnya.

Jika proses di keluarga sudah baik, masuklah ke lembaga pendidikan dan lingkungan yang mendukung. Tiga wahana ini lah kunci kehebatan individu. Di keluarga, nilai dasar itu mengendap, tertanam dan tumbuh. Di lembaga pendidikan, jiwa entrepreneurship itu dikembangkan dengan sentuhan pengetahuan dan berbagai best practice yang dipelajari bersama.Di lingkungan perusahaan atau asosiasi, terjadi proses pembelajaran lebih jauh, membuat pohon kewirausahaan rindang dan akarnya semakin kokoh. Junior yang baru datang, belajar pada senior yang penuh dengan pengalaman dan kearifan. Senior belajar kepada junior yang membawa pengetahuan, setelah belajar di lembaga pendidikan berkualitas.

Dalam semua proses hidup di tiga lingkungan itu, teruslah belajar tiada henti. Karena tantangan bisnis semakin kompleks, kualitas pesaing semakin meningkat, demikian juga, mereka yang bekerja bersama kita datang dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan ketika kita pertama hadir.

 

 

 

Comments

Article by: admin