Pendidikan Entrepreneursip di Sekolah – NEC 2012 Preview

Pendidikan Entrepreneursip di Sekolah – NEC 2012 Preview

World Economic Forum mengelompokkan tingkat perkembangan negara-negara berdasarkan pendapatan masyarakatnya ke dalam tiga kategori, yakni factor driven, efficiency driven, dan innovation driven. Saat ini Indonesia sudah terlepas dari factor driven economy, yakni negara yang bergantung pada kekayaan alamnya, dan menjejakkan kaki dalam efficiency driven economy, yang bergantung pada tingkat efisiensi produksi barang dan jasa. Pendapatan per kapita negeri ini sudah melewati angka US$ 3000.

Indonesia tidak bisa puas hanya dengan efficiency driven economy saja. Negara dengan kategori ini terus tertekan karena penghasilan masyarakat didapat dari murahnya upah tenaga kerja, yang membuat sebagian kalangan sulit sejahtera. Untuk bisa bergerak lebih cepat menuju innovation driven economy, negara yang mampu meningkatkan value bagi barang dan jasa, Indonesia perlu menghasilkan lebih banyak entrepreneur.

Muhammad Maulana, CEO Uno Kapital, memandang pentingnya membangun lingkungan yang baik sehingga entrepreneur bisa lahir. Dalam acara National Education Conference Preview* yang diadakan di Sampoerna School of Education pada tanggal 28 November 2012, Muhammad Maulana berbagi pandangannya mengenai pendidikan yang dibutuhkan untuk melahirkan entrepreneur.

“Pendidikan entrepreneur itu bukan mengajarkan cara membuat business plan atau memberi tips-tips cara cepat menjadi kaya. Pendidikan entrepreneur itu membentuk karakter dan mengajarkan kepemimpinan, bekerja dalam tim, mengambil keputusan, bertindak berdasarkan perhitungan risiko, serta memberikan impact,” kata Muhammad Maulana.

Untuk bisa mengajarkan kemampuan tersebut, tidak bisa mengandalkan pelajaran di kelas saja. sekolah perlu menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga mental entrepreneur benar-benar tertanam dalam diri siswa. Muhammad Maulana mengutip penelitian Ernest & Young tentang faktor yang membantu terbentuknya entrepreneur bahwa selain pendidikan formal, empat hal utama yang membantu entrepreneur adalah keluarga, pengalaman bekerja, mentor, dan partner bisnis.

Praktis metode belajar tradisional, “guru bicara murid mendengar,” tidak bisa digunakan untuk mengajarkan entrepreneurship. “Sekolah harus menolong siswa untuk menolong dirinya sendiri dan menyediakan mentor agar mental entrepreneur siswa lebih terasah,” ujar Muhammad Maulana.

*) Acara ini adalah seminar pendahuluan dari National Education Conference 2012 (NEC 2012) yang akan diadakan tanggal 11-12 Desember 2012. Dalam NEC 2012, praktisi pendidikan, pemerintah, dan pengusaha akan berdiskusi mengenai solusi yang tepat bagi pendidikan entrepreneurship di Indonesia.

Comments

Article by: admin