Pilihanku adalah untuk Lepas dari Penjara Jalanan

Pilihanku adalah untuk Lepas dari Penjara Jalanan

Pemalas, kasar, tidak tau sopan santun, bodoh dan miskin hanyalah sedikit stigma yang akrab pada anak-anak jalanan. Memang tidak mengherankan jika stigma ini kian melekat. Pasalnya, kita yang hidup di kota sering kali melihat anak-anak jalanan“hanya” sekedar mengamen atau mengulurkan tangan meminta belas kasihan. Namun, sebuah pernyataan mengejutkan muncul dari Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Muhammad Ihsan mengenai penghasilan anak jalanan pada media cetak Kompas. Terang saja, mereka yang terlihat hidup dalam kemisikinan ternyata mampu mengantongi Rp 200.000,- per hari atau sekitar Rp 3 juta rupiah setiap bulannya.

Jika terus seperti ini, maka upaya mengurangi jumlah anak jalanan di Indonesia akan menghadapi tantangan yang semakin berat. Ratusan ribu rupiah yang dapat dengan mudah diraup akan semakin membuat anak jalanan enggan untuk meninggalkan jalanan. Hingga saat ini Indonesia memiliki lebih dari 230.000 anak jalanan di seluruh Indonesia, dimana 12.000 diantaranya berada di kota-kota besar (sumber: Organisasi Bebas Dari Jalanan). Bayangkan apabila 230.000 pengemis dan anak jalanan ini mampu mendapatkan pembekalan skill serta pendidikan yang dibutuhkan. Tentu saja 230.000 pengemis ini nantinya mampu membantu membentuk Indonesia yang lebih mandiri dan maju. Alternatif ini mungkin terkesan utopis, namun mengapa tidak?

Upaya menjadikan para pengemis dan anak-anak miskin dan rentan menjadi mandiri, cerdas dan memiliki skill lah yang sedang dilakukan oleh The Learning Farm (TLF). TLF memberikan kesempatan bagi anak-anak jalanan yang ingin hidup dengan lebih baik melalui pemberian beasiswa Planting Seeds of Change for Vulnerable Young People. Melalui beasiswa ini setidaknya 25 anak-anak yang telah melewati tahap seleksi akan dibekali ilmu dan pengalaman praktik di bidang produksi, manajemen dan pemasaran pertanian organik selama tiga bulan.

  Beruntung tim dan mahasiswa MRUF Envoy angkatan IV telah menjadi saksi akan semangat untuk berubah oleh para siswa binaan TLF pada tanggal 2-3 Juli 2013 lalu. Bertempat di kompleks perkebunan teh Maleber, Cianjur, Jawa Barat, kami dan para mahasiswa berkesempatan untuk saling bertukar ilmu dengan pihak TLF. Rasa kagum kerap muncul ketika tim MRUF bertemu dan berbincang dengan anak-anak penerima beasiswa dari TLF. Pasalnya, walaupun mayoritas dari mereka besar di jalanan, mereka memiliki tekad yang amat kuat untuk belajar dan berubah. Tinggal dan belajar di TLF bukanlah hal yang mudah bagi anak-anak istimewa ini. Mereka yang terbiasa hidup bebas, sekarang harus hidup dengan penuh aturan dan kedisiplinan yang sangat tinggi. Apabila ada yang tidak disiplin, tentu saja ada hukuman yang menunggu untuk dijalankan.

Di hari pertama acara, mahasiswa mendapatkan pembekalan yang lengkap mengenai pertanian organik. Mulai dari kegiatan pembibitan, pembuatan pestisida nabati (pesnab) hingga tips dan trik untuk melaksanakan urban farming di rumah masing-masing. Tidak lupa mahasiswa MRUF Envoy juga menyiapkan materi yang akan dipelajari bersama peserta TLF. Belajar dengan murid sekolah memang sedikit berbeda dengan para peserta TLF ini. Mereka memang seringkali bersenda gurau disaat sedang belajar. Tetapi, semangat ingin tahu seakan berkobar tanpa henti. Tak henti-hentinya mereka bertanya apabila tidak mengerti akan materi yang diberikan.

Namun, yang paling berkesan adalah ketika dihari kedua tim MRUF dan TLF dapat saling sharing pengalaman masing-masing. Ketika para mahasiswa MRUF Envoy telah lebih dahulu mengawali sharing dengan menceritakan pengalaman hidup mereka, akhirnya satu per satu perwakilan TLF mulai menceritakan kisah hidup mereka hingga mulai belajar di TLF. Setiap anak memiliki kejutan tersendiri akan cerita hidup mereka. Ada yang pernah menjadi pengamen, ustad, hingga seorang anak yang berkecukupan yang memutuskan untuk tinggal di jalanan. Halangan dan rintangan dari dalam diri maupun lingkungan untuk belajar pun mereka ungkapkan. Dimulai dari keterbatasan ekonomi untuk melanjutkan pendidikan. Hingga tidak adanya izin dari keluarga untuk menimbah ilmu. Hal ini semakin membuat kami sadar, bahwa isu pendidikan tidak hanya terletak pada keterbatasan ekonomi semata. Namun nilai dan lingkungan masyarakat juga berperan besar pada perkembangan pendidikan di suatu daerah.

Tanpa sekolah saya bisa hidup, namun hidup mengajarkan saya untuk sekolah

-Ino (Mahasiswa Binaan The Learning Farm)- 

Itulah ungkap Ino diakhir ceritanya kepada seluruh mahasiswa MRUF dan TLF. Ia mengaku bahwa sebenarnya ia adalah anak yang dibesarkan jauh dari kemiskinan. Namun jiwa pemberontak dalam dirinya akhirnya menuntunnya untuk hidup di jalanan. Tidak hanya sekedar mengamen ataupun mengemis, Ino mengakui ia bahkan pernah membantu bandar narkoba demi mendapatkan uang agar bisa membeli kebutuhannya. Hingga akhirnya hidup di jalanan pun mengajarkan Ino betapa pentingnya sekolah. Sekolah dalam artian bukan hanya untuk duduk diam dan  mendengarkan guru berbicara. Namun bahwa menimbah ilmu setinggi-tingginya adalah penting. Ilmu mampu memberikan kemampuan untuk memilih.

Dalam karya Gary Schoeniger dan Clifton Tulbert yang berjudul Who Owns The Ice House dipaparkan bagaimana kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk memilih. Lingkungan dan masyarakat mungkin dapat mendikte apa yang seharusnya kita lakukan atau bahkan status atau pekerjaan yang seharusnya kita miliki. Tapi kita sebagai manusia yang bebas memiliki pilihan untuk tidak menerima begitu saja apa yang didikte lingkungan dan masyarakat terhadap kita. Didukung dengan ilmu dan pengetahuan, maka setiap individu baik itu anak jalanan, pedagang asongan, apapun status dan pekerjaannya dapat memilih untuk mencari jalan yang akan membawa hidupnya kearah yang lebih baik. Baik itu di dalam hal pendidikan maupun karir.

Hal inilah yang sedang dilakukan oleh TLF dan tentunya MRUF. Membekali para anak muda sehingga mereka memiliki kebebasan untuk menulis jalan cerita kehidupan mereka. Untuk hidup dengan bermartabat sebagai manusia. Serta untuk hidup dengan ilmu yang juga mampu menghidupi mereka. Simply, to gain their right to choose.

Only the educated are free

-Epictetus (55 AD- 135 AD)

 

Comments

Article by: admin

You may also like these posts
Melihat Langsung Usaha Pengembangan Industri kreatif di Rumah Batik TBIGMengungkap Coaching Bisnis