Rifan Ardiansyah, Pemulung Jadi Juragan.

Rifan Ardiansyah, Pemulung Jadi Juragan.

Rifan Ardiansah, memulai aktifitas berwirausaha sejak duduk di bangku SMA. Menjadi pemulung demi mencapai cita-citanya sebagai pengusaha daur ulang pada saat itu sudah pernah dialaminya. Kini Rifan telah memilih dan mengembangkan bisnisnya di sektor perikanan, pertanian dan perkebunan. Ia juga meneruskan studinya di jenjang master untuk mendukung kegiatan dalam pengembangan bisnisnya.

Bisnisnya diawali pada tahun 2009 saat SMA kelas tiga semester akhir dengan berjualan pulsa dari ajakan guru pencak silatnya, dimulailah perjalanan Rifan menjadi wirausahawan. Rifan yang dulunya adalah pribadi yang pemalu, berubah menjadi pribadi yang berani untuk “tampil” di depan publik demi meraih cita-citanya menjadi wirausahawan. Rifan yang aktif di kegiatan ekstra kurikuler memanfaatkan jaringan dari kegiatan tersebut dan mengajak teman-temannya berjualan pulsa, dengan membangun sistem keagenan yang disebarluaskan dari kelas ke kelas membuat dirinya sukses menguasai pasar di sekolahnya.

Sangat disayangkan, bisnis pulsanya harus mengalami penurunan di akhir semester karena harus fokus dengan ujian nasional dan munculnya beberapa pesaing yang lahir dengan sistem bisnis yang sama. Dirinya menyadari bahwa bisnis yang mudah dijalankan itu mudah juga untuk ditiru.

Masuk ke jenjang universitas, Rifan melanjutkan pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia (Bandung) yang menjadi pilihannya dan juga pilihan orang tuanya. Mengapa menjadi pilihan orang tua, karena background orang tuanya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) menginginkan Rifan untuk mengikuti jejaknya. Rifan mengatakan dirinya mengerti akan maksud tujuan kedua orang tuanya, karena ingin dirinya hidup berkecukupan dari gaji pokok bulanan, tunjangan dan dana pensiun pada saat ia tua nanti.

Namun tuntutan dari orang tuanya yang ingin dirinya menjadi PNS tidak menyurutkan cita-cita Rifan untuk tetap menjadi pengusaha. Pada awal masuk kuliah, Rifan membentuk komunitas mahasiswa asal Cianjur yang memiliki pemikiran yang sama untuk berwirausaha. Terbentuklah sebuah usaha yg terdiri dari lima orang (satu laki-laki dan empat perempuan) yang bergerak di bidang makanan ringan.

Bisnis ini mulai pada semester kedua. Rifan yang tidak ingin menyia-nyiakan sisa waktu yang dimiliki untuk hal yang kurang produktif. Setiap subuh ia pergi ke salah satu pasar di Bandung untuk membeli bahan baku dan sebelum berangkat kuliah, mengolahnya menjadi beraneka macam gorengan, kemudian dijajakan di kampus. Berjalan sekitar tiga bulan usaha makanan ringan, Rifan mendapatkan keuntungan yang cukup baik, usahanya memiliki keuntungan berkali-kali lipat.

Sayangnya, Rifan kembali mengalami penurunan dalam bisnis, adanya egoisme yang muncul dari anggota membuat bisnis menjadi tidak sehat. Usaha yang dirintis kembali bubar karena hal tersebut, sehingga menyebabkan Rifan memulai bisnis sendiri dengan berjualan kerudung di kampusnya. Tidak lelah sampai disitu, ia kembali mendapatkan pelajaran berharga dari menjalankan bisnis sendiri, dirinya berfikir bahwa jika terus berbisnis dengan cara bekerja sendiri maka ia akan lamban untuk berkembang. Dirinya yang pantang mundur kembali mempelajari bisnis baru yaitu bisnis barang rongsokan. Hal tersebut terinspirasi dari kesuksesan pengusaha rongsokan yang berasal dari cianjur.

Rifan berpendapat bahwa bisnis barang rongsokan prospektif dan juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar rumah, yaitu membuka pengolahan daur ulang sampah plastik. Ia juga mengatakan bahwa usaha rongsokan relative mudah dalam mencari bahan baku sampah plastik yang begitu melimpah. Rifan memulai bisnis rongsokan dengan mencari tempat pembelajaran mengenai usaha rongsokan dan ia menemukan CV majestic buana yang berada di bekasi sebagai tempat ia belajar mengenai bagaimana cara mengolah dan memasarkan hasil daur ulang sampah plastik.

Pada saat itu, Rifan hanya punya modal sekitar Rp.10 juta, sedangkan untuk membeli mesin dan sewa lahan itu membutuhkan paling tidak Rp. 100 juta. Rifan mencari jalan untuk mendapatkan modal, mulai dari meminjam orang tuanya dan kemudian tidak mendapatkan approval karena nominalnya yang besar sampai akhirnya ia tergerak untuk memulung terlebih dahulu untuk mendapatkan bahan-bahan daur ulang.

Dimulailah perjuangan itu dengan memungut botol-botol pelastik bekas di kelas, di jalan, maupun di tempat kost. Setiap malam pukul 22.00-24.00, dengan berbekal tas atau kantong besar Rifan mengelilingi daerah-daerah di sekitar kostnya. Sering juga setiap selesai perkuliahan, Rifan sengaja pulang paling akhir, supaya temen-temanya tidak melihatnya mengumpulkan sampah plastik. Namun, lama kelamaan teman-teman terdekatnya tahu dan justru membantu Rifan mendapatkan barang rongsokan dengan mengantarkannya sampah plastik yang didapatnya ke kost-an Rifan. Setiap sebulan sekali, Rifan membawa ke rumah di Cianjur, sebagai bukti keseriusan dirinya ingin jadi pengusaha rongsokan.

Pada saat itu juga Rifan juga punya program menjadi orang yang super hemat yaitu maksimal pengeluaran hidupnya Rp.2000/hari. Program tersebut dimaksudkan agar target modalnya segera tercapai. Untungnya, masalah kebutuhan pokok yaitu beras ia selalu membawa dari rumah meskipun lauknya terkadang mi instan, telur dan terkadang keripik singkong yang harganya Rp.500,-.

Aktivitas jadi pemulung dijalani sampai dengan tujuh bulan, sebab pada saat dirinya pulang ke Cianjur tiba-tiba hasil sampah plastik yang dikumpulkan raib. Ternyata plastik yang sudah ia kumpulkan sudah dijual oleh orang tuanya dengan alasan mengganggu keindahan rumah. Saat itu sontak hatinya sedih berbalut kesal, karena usaha yang diperjuangkan selama ini tidak didukung oleh orang tuanya. Dirinya sempat putus asa dalam berwirausaha, karena pada saat itu dunia serasa begitu sulit bagi kehidupannya.

Tapi waktu tidak bisa dihentikan sejenak untuk berputus asa, waktu akan terus berjalan, dirinya bangkit dengan menjelaskan kepada orang tua apa yang menjadi tujuan dirinya berwirausaha dan memohon pengertian dan restu dari kedua orang tuanya. Alhamdulillah, ternyata ada hikmah dibalik kejadian tersebut. Pada saat mencari informasi tentang ilmu berwirausaha, Rifan bertemu dengan beberapa orang untuk merealisasikan cita-citanya, termasuk MRUF.

Rifan kembali mulai bangkit, ia terfikirkan untuk berbisnis ikan nila karena terinspirasi dari kunjungannya ke rumah seorang teman yang berada di daerah subang. Dirinya mengatakan bahwa ia melihat banyak peternak ikan nila merah dengan kualitas yang bagus disana. Rifan berencana untuk mengirimkannya ke Bekasi ke tempat dimana dulu ia menjalani bisnis rongsokan, karena dari informasi yang ia dapat di bekasi memiliki sedikit supply ikan nila.

Dibantu dua orang pegawai, usaha yang dirintis 1 Februari 2011 ini bisa berjalan sampai saat ini ditambah lagi tidak mengganggu kuliah. Saat ayahandanya meninggal pada Februari 2012, Rifan mengaku sempat ngedrop. Kondisi ini sempat membuat usahanya kacau balau. Alhamdulillah, dirinya selalui rutin mengikuti training dari MRUF, kegiatan training memberikan rivan motivasi untuk kembali bersemangat. Rifan mengatakan, hal paling utama yang dipelajari dari MRUF adalah pendewasaan mindset, jadi bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang bisa kita berikan dalam kehidupan ini. Rifan juga tetap percaya diri untuk berikhtiar sesempurna mungkin dan hasil akan diberikan oleh Allah.

Setahun lebih berinteraksi dengan MRUF melalui pelatihan dan konsultasi, saat ini usahanya sudah cukup signifikan. Usahanya tidak tunggal ikan nila saja, bisnis ikan bawal dan ikan lele juga dijalaninya. Setelah mencoba di lahan 7500m2 akhirnya Rifan memutuskan hanya bergerak di perdagangan untuk perikanan, dan dua kolam saja yang disisakan.

Pada awal tahun 2013, Rifan juga mengembangkan usahanya ke sektor pertanian dan perkebunan. Saat ini bisnisnya berkembang dengan lahan kelolaan seluas 1,5 hektar miliknya dan 3,5 hektar milik mitra bisnisnya. Usahanya kini di formalkan dibawah bendera CV. Rifan Guna Semesta. Ia menanam cabe, jagung manis, terong bulat, jahe, kacang merah, ubi, jeruk limau dan mentimun. Rifan berencana masuk perkebunan coklat, karet dan buah-buahan.

Dari apa yang dialaminya, Rifan dapat belajar bahwa di setiap kegagalan, pasti ada hikmah yang bisa diambil. “Jangan takut gagal, karena kegagalan lah yang akan membesarkanmu selama tidak menyerah.”

Comments

Article by: writer

You may also like these posts
Melihat Langsung Usaha Pengembangan Industri kreatif di Rumah Batik TBIGMengungkap Coaching Bisnis