Salman al-Farisi: Bangkrut Tiga Kali, Tidak Masalah

Salman al-Farisi: Bangkrut Tiga Kali, Tidak Masalah

Berjualan sambil kuliah adalah hal yang paling dihindari di kampus. Bila bukan karena kebutuhan mendesak, biaya kuliah dan kesulitan biaya hidup saat kuliah, mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) enggan berjualan. Mungkin karena memang melelahkan, sudah cukup uang kiriman dari orangtua, sudah mendapatkan beasiswa, ataupun karena gengsi.

Untuk saya, berjualan di kampus menjadi sebuah tantangan tersendiri. Untuk apa? Untuk biaya hobi saya yang cukup lumayan mengurangi jatah bulanan dari orangtua. Dari mulai berjualan via media online dan Forum Jual Beli online seperti kaskus, saya mulai dapat mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk menambah uang saku dan biaya travelling yang menjadi hobi sejak kecil. Maklum, untuk pengeluaran non akademik, saya rasa tidak sepantasnya kita meminta orangtua.

Perputaran uang selama berdagang via online cukup lumayan untuk seorang mahasiswa. Saya mulai memberanikan diri bisnis offline, yaitu mengambil paket business opportunity The Siap Saji dengan brand “Yourtea” yang cukup populer di kampus. Uang sebesar Rp 6 juta saya investasikan, hasil dari perputaran bisnis sebelumnya dan pinjaman dari orangtua.

Bertempat pertama kalinya ada di depan kampus Gunadarma, di Kelapa Dua, Depok. Penjualan Teh “Yourtea” cukup baik pada bulan pertama, walaupun belum maksimal, namun sudah bisa menutupi biaya operasional. Mengalami tiga kali pergantian karyawan dalam dua bulan, namun tidak menurunkan semangat saya untuk tetap berjualan. Pada pertengahan bulan kedua, omset harian sudah mulai tidak mencukupi untuk biaya operasional. Uang pribadi mulai digunakan untuk membayar gaji karyawan. Dan pada akhir bulan ketiga bisnis teh ini saya istirahatkan karena lebih sering nombok, rugi.

Tidak putus asa, saya mulai mencari tempat baru untuk berjualan. Keliling dari minimarket dan toko-toko yang menyediakan lahan berjualan di bagian depannya selama satu bulan. Hasilnya nihil. Saat bermain ke SMA, saya sempatkan main ke kantin sekolah dan ngobrol dengan ibu kantin untuk kerjasama. Alhamdulillah disetujui dengan bagi hasil. Penjualan teh di kantin SMA ini cukup baik pada bulan-bulan pertama.

Dalam satu hari, penjualan bisa melebihi 100 gelas. Namun seperti yang terjadi pada tempat sebelumnya, penjualan menurun dari bulan ke bulan. Dan saya akhirnya memutuskan untuk menutupnya pada bulan ke-8. Sukses bangkrut untuk kedua kalinya.

Saya masih berharap mendapatkan tambahan pemasukan dari bisnis teh ini. Saya mencoba membawa booth ke Bogor, tepatnya di Kampus IPB. Mendapatkan tempat dari kenalan pemilik laundry, saya mulai berjualan kembali . Namun tidak seperti di Depok yang membuahkan hasil positif pada awal bulan, penjualan di Bogor ini langsung rugi pada minggu pertama dan seterusnya, hingga belum satu bulan saya sudah menutupnya kembali. Banyak biaya yang dikeluarkan untuk usaha ini. Transportasi, biaya lelah, bahkan uang sewa tempat yang terlanjur dibayar setahun. Setiap jenis usaha ada masanya dan kita harus tahu kapan untuk berhenti. Dari kebangkrutan ketiga ini saya sadar bahwa berjualan teh bukan bidang saya. Namun saya tidak menyesal meski bangkrut tiga kali. Saya belajar banyak. Belajar mengelola karyawan, menjaga hubungan dengan orang lain, melakukan pembukan secara rutin, dan lain-lain. Terutama belajar mengenai kesabaran dan tidak gegabah dalam mengambil peluang.

Uang jutaan yang saya keluarkan untuk bisnis yang gagal ini saya anggap sebagai biaya sekolah bisnis di lapangan. Pasti inilah proses untuk mencapai kesuksesan, tahu bagaimana rasanya bangkrut terlebih dahulu. Setidaknya saya sudah berani melangkah dan membuat perubahan untuk saya sendiri dan orang lain.

Comments

Article by: admin