Uripto Widjaja – Pembuat Monitor GTC

Uripto Widjaja – Pembuat Monitor GTC

Anda mungkin tahu merk monitor komputer GTC yang pernah meramaikan pasar monitor Indonesia sebelum monitor LCD populer. Monitor merk GTC adalah monitor buatan Indonesia. PT. Galva Corporation adalah perusahaan dibalik monitor GTC ini. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1946 oleh seorang pemuda yang baru berumur 22 tahun bernama Uripto Widjaja.

GTC14

Monitor GTC

Uripto Widjaja lahir di Belinyu, Pulau Bangka, Sumatra Selatan pada tanggal 2 Juni 1924. Ia adalah putra ke-2 dari 4 bersaudara. Ketika berusia 7 tahun, keluarga mengirim Uripto kepada pamannya di Serang, Jawa Barat untuk sekolah. Di sanalah ia dibesarkan dan menghabiskan masa kanak-kanaknya.

Ia tergolong murid yang kurang pandai. Tamat dari Sekolah Dasar ia melanjutkan sekolah di Jakarta. Waktu akan mendaftar ke SMP ia harus mengayuh sepeda dari Serang ke Jakarta sejauh 91 kilometer. Jika semasa Sekolah Dasar tidak termasuk anak yang pintar, tetapi di SMP kebalikannya, sebab ia sempat meraih juara pertama di kelasnya. Pelajaran matematika dan elektronika adalah 2 pelajaran yang paling disukainya.

Ia berasal dari keluarga sederhana tidak sempat menyelesaikan SMA sebab ia memang harus bekerja untuk hidup. Maka mulailah Uripto Widjaja merintis usahanya dengan mendirikan sebuah badan usaha yang bergerak di bidang jasa servis yang diberi nama “Radio dan Electric Service Galva”. Di sebuah bangunan tua di Jalan Hayam Wuruk No. 27, ia menyewa ruangan berukuran 8 x 4 m2 untuk memulai usahanya. Bagian depan ruangan digunakan untuk kerja dan bagian belakangnya untuk tidur. Alasan Galva didirikan disana, karena Uripto bertempat tinggal di sana. Mengapa memilih nama Galva? Uripto bermaksud mengenang jasa seorang ilmuwan yang berjasa besar dalam teori kelistrikan bernama Luigi Galvani (1737-1798). Bidang elektronika dipilihnya karena memang sesuai dengan hobinya saat itu.

Dengan modal sebesar 700 gulden, Uripto Widjaja memulai usahanya. Awalnya hanya sales dan service radio dan alat-alat listrik, lalu tahap berikutnya merintis usaha di bidang manufacturing dan mengimpor komponen pesawat radio dan tahap terakhir adalah produksi manufacturing dengan cara mendirikan industri perakitan pesawat radio dan televisi. Uripto benar-benar memulai dari nol dan semuanya serba pahit dan kekurangan. Dengan sarana yang relatif minim serta personil yang hanya berjumlah 3 orang, Galva mulai menanamkan tonggak sejarahnya dan terus berusaha di tengah gelombang revolusi.

Menurut pemikirannya uang sebanyak 700 gulden yang dimilikinya kalau tidak dimanfaatkan, akan habis begitu saja. Sebagai pemuda putus sekolah, ia harus berpikir dan bekerja mencari nafkah untuk hidup. Maka, diputuskan untuk mendirikan bengkel servis dan radio serta alat-alat listrik Galva. Jadi motivasi Uripto waktu itu adalah sekedar untuk mencari nafkah. Ia harus berjuang, bekerja keras untuk dapat meningkatkan usahanya. Hanya dengan cara inilah, menurutnya usaha itu akan bertahan. Semua itu dijalaninya dengan penuh rasa suka tanpa mengeluh sama sekali.

Pada akhir tahun pertama dari usahanya, ia baru mampu menggaji 2 karyawan. Untuk menjalankan usahanya, tentu saja tidak terlepas dari bantuan orang lain. Ketika itu ia mengajak 2 orang temannya, yaitu Subrata Pranatadjaja dan Okar Senda untuk bergabung dengannya atas ikatan saling percaya dan menguntungkan.

Staf dan karyawan Galva mengenalnya sebagai sosok “yang sangat tegas” dengan kemauan kerja sangat keras di samping mampu melihat peluang bisnis di masa mendatang. Untuk hal ini, ia teladan di depan. Ia tidak segan-segan terjun bersama para pekerja, yang menumbuhkan rasa hormat dan cinta, serta memacu semangat kerja. Kalau perlu turun ke lapangan dan langsung inspeksi, sekalipun ia pemimpin tertinggi di Galva.

Uripto adalah orang yang tidak pernah melupakan jasa orang, meskipun mereka hanya pekerja biasa. Para perintis berdirinya Galva misalnya, setiap tahun mendapat jatah tahunan berupa bonus. Bapak Uripto cukup perhatian terhadap karyawan. Ia selalu ingin tahu keadaan kesejahteraan karyawannya dan akrab dengan mereka.

Kesuksesannya memimpin PT Galva tidak lepas dari semangat dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Ia sukses menjadi pengusaha besar bukan karena fasilitas atau koneksi. Ia tumbuh dari zero point (titik nol). Galva Radio dan Electric Service yang didirikan di Jalan Hayam Wuruk 27 Jakarta, tanggal 1 September 1946.

Namun, tidak berarti bahwa perjalanan bisnisnya senantiasa mulus bagai jalan tol. Ia pernah beberapa kali jatuh bangun. Tahun 1967, ia meninggalkan bisnis elektronika dan beralih ke bisnis pengelolaan hutan, ekspor kopra dan karet. Bisnis tersebut gagal total karena menghadapi kesulitan keuangan. Untuk menutupi utangnya ia menjual gedung di Jalan Hayam Wuruk No. 27/28, namun tidak laku-laku. Sampai akhirnya tahun 1971 ia memperoleh pinjaman dari Bank Sumitomo dan Bank of Tokyo untuk membayar utangnya. Uripto sangat bersyukur dan sungguh merasakan adanya campur tangan Tuhan dalam mengatasi masalah utang ini. Pinjaman itu membantu ia kembali dalam bisnis elektronika. Krisis tersebut disebabkan adanya perubahan politik dari demokrasi terpimpin menjadi demokrasi liberal, dan PT Galva tidak mampu mengikuti perubahan itu.

Tahun 1987, ia menghadapi kesulitan lagi karena devaluasi rupiah. Namun kali ini tertolong oleh pemerintah yang memesan peralatan studio, rekaman radio, dan televisi untuk menghadapi SEA Games tahun 1979. Tahun 1983 bisnisnya mengalami krisis lagi, demikian pula tahun 1986. Dengan kerja keras, pantang menyerah, dan faktor teman serta relasi yang memberi bantuan, bisnisnya tetap bertahan, maju pesat, dan sukses. PT Galva sekarang memiliki 8 anak perusahaan dan telah memberi nafkah kepada lebih dari 3000 karyawan dan karyawati.

Comments

Article by: admin

You may also like these posts
Pembukaan Program ENVOY VIIITahap Akhir Rekrutmen MRUF ENVOY VIII